PROGRAM PENGAJARAN SEMESTER I
MATA KULIAH MIKROBIOLOGI PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
A. PENDAHULUAN
Mata kuliah Mikrobiologi (Bd 207) semester I mempunyai bobot 2 SKS (C=1, P=1). Pengalaman belajar ceramah adalah kegiatan belajar ceramah yang lebih mengutamakan kemampuan kongnitif dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan penugasan.
Pengalaman belajar Praktek (PBP) adalah kegiatan belajar berupa praktek yang lazim dilakukan dalam tatanan nyata dilahan praktek dengan methode ( simulasi. Role play, praktek di lab dan praktek dilahan)
B. DISKRIPSI MATA KULIAH
Pengalaman belajar Praktek (PBP) adalah kegiatan belajar berupa praktek yang lazim dilakukan dalam tatanan nyata dilahan praktek dengan methode ( simulasi. Role play, praktek di lab dan praktek dilahan)
B. DISKRIPSI MATA KULIAH
Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memahami tentang mikroorganisme dan parasit yang memebgaruhi kesehatan dan konsep- konsep yang berhubungan dengan pencegahan dan pengendalian infeksi dengan pokok bahasan : Konsep dasar mikrobiologi, bacteriologi dasar, pemberian vaksin, mikologi, virologi, sterilisasi dan dsinfeksi.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa mampu:
a. Menjelaskan konsep dasar mikrobiologi
b. Menguraikan tentang bakteriologi dasar.
c. Melakukan sterilisasi dn desinfeksi
d. Menguraikan sistem imunologi.
e. Melakukan pemeriksaan mikrobiologi
f. Melakukan pemeriksaan virologi
D. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Kegiatan belajar dikelola untuk mencapai tujuan yaitu:
1. PBC (Proses belajar ceramah)
Dengan bobot 1 SKS = 1x 50 menit x 16 minggu = 800 Menit
Kegiatan kuliah merupakan kegiatan memberikan teori / materi kuliah dalam kelas serta diskusi untuk materi- materi fisiologi
2. PBP
Dengan bobot 1 SKS = 1x 100 menit x 16 minggu = 1600 Menit = Jam . Dalam 1 semester yang diberikan baik dikelas maupun dilahan praktek secara langsung. Dengan menggunakan metode simulasi, demonstrasi, role play dan bed side teaching.
Praktek dikelas = jam
Praktek dilahan =
E. PERSYARATAN PESERTA DIDIK
Untuk mengikuti mata ajar mikrobiologi mahasiswa harus :
1. Mengikuti semua mata perkuliahan
2. Selama kegiatan belajar mengajar dalam satu semester mahasiswa tidak boleh absen dengan alasan apapun lebh dari 10 % jumlah kehadiran.
3. Jika karena suatu hal yang penting mahasiswa tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka sebagai gantinya dapat menyusun makalah, penugasan sesuai dengan topik yang ditentukan pendidikan.
4. Kegiatan praktek harus diikuti 100%
5. Izin yang diperoleh hanya melalui unit pendidikan.
6. Selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa harus tertib dan mematuhi segala kewajiban untuk mata ajar tersebut.
7. Setiap mahasiswa dapat mengikuti ujian semester jika :
Telah menyelesaikan adminstrasi keuangan.
Mengikuti kegiatan belajar mengajar
Telah menyerahkan semua penugasan- penugasan selama kegiatan belajar mengajar.
F.SISTEM PENILAIAN
Penilaian untuk mata kuliah mikrobiologi dilaksanakan secara menyeluruh mencakup:
Teori :
1. Ujian tengah semester :20% (N I)
2. Ujian akhir semster :30 % (N2)
3. Tugas :10 % (N3)
Praktek:
1. Praktek : 40 % (N4)
Nilai akhir mata ajar adalah:
MA=(20% x N1) +(30 % x N2) + (10 % x N3) + (40 %x N4)
Nilai batas lulus untuk mata ajar =2= C dengan ketentuan sebagai berikut :
Nilai mentah Nilai Mutu Lambang
0-40
41-55 = D
56-67 = C
68-78 = B
79- 100 = A
TIM PENGAJAR
1. Penjelasan Program
1.1. Konsep dasar mikrobiologi.
1.1.1. Pendahuluan
1.1.2. Sejarah Mikrobiologi
1.1.3. Aplikasi dalam bidang kebidanan
2.
2.1. Mikrobiologi dasar
2.1.1Toksonomi Nomenklatur
2.1.2. Morfologi dan struktur flora normal.
2.1.3. Hubungan kuman dengan hospes dan lingkungan.
2.1.4. Pengelolaan spesimen
2.1.5.Pertumbuhan, pembiakan dan metabolisme
3.
3.1. Pemeriksaan jenis bakteri :
3.1.1.Alat- alat yang diperlukan.
3.1.2. Cara pewarnaan
3.1.3. Cara penilaian
3.1.4. Menentukan jenis bakteri dan hasil pemeriksaan.
5. 4.1.Konsep dasar sterilisasi dan desinfeksi:
4.1.1 Pengertian tentng sterilisasi, desinfeksi,antiseptik, pengendalian, mikroorganisme secara fisik
4.
4.1. Konsep dasar sistem imunologi
4.1.1. Dasar-dasar Imunologi
4.1.2. Penyakit infeksi karena imunologi pada ibu dan anak.
4.1.3. Prinsip- prinsip vaksin dan hypersensitive
4.2.Macam- macam penanganan limbah
4.2.1.Peranan tenaga kesehatan/ bidan dalam sterilisasi dan desinfeksi
5.
5.1.Sterilisasi dan desinfeksi
5.1.1. Cara pemanasan
5.1.2. Cara Kimiawi
5.1.3. Penggunaan saringan
7.
7.1. Mikrobiologi
7.1.1.Dasar- dasar mikrobiologi
7.1.2. Jamur yang mempengaruhi kesehatan ibu hamil dan menyusui.
8.
8.1. Praktikum mikrobiologi:
8.1.1 Alat- alat yang dibutuhkan
8.1.2. Cara menggunakan alat-alat / bahan.
8.1.3. Macam- macam uji mikrobiologi (uji biokimia N, gonorhoe, tes yodometri, pewarnaan,GIEMSA,TES RPR
9.1. Virologi
9.1.1. Virologi dasar .
9.1.2. Klasifikasi dan morfologi,reproduksi, hubungan virus dengan sel.
9.1.3. Virus yang mempengaruhi kesehatan ibu hamil.
12. 10.1. Konsep dasar infeksi nosokomial
10.1.1. Definisi infeksi nosokomial.
10.1.2. Patogenesis infeksi nosokomial kuman oporturis.
14. 10.1.3. Cara pencegahan
10.1.4. Peran bidan dalam penanggulangan infeksi nosokomial
15. Penatalaksanaan cara pencegahan infeksi nosokomial melalui :
11.1.1. Alat
11.1.2. Air
11.1.3. Udara / Lingkungan
11.1.4. Bahan / Spesimen
16.
Evaluasi
KEPUSTAKAAN
Buku Utama :
1. FK UI ( 1994 ), Mikrobiologi dasar, EGC, Jakarta
2. FK UI ( 1993), Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, Bina Rupa Aksara Jakarta
Buku Anjuran:
1. Fakultas Kedokteran UI, ( 1994 ) Buku Praktikum Mikrobiologi, FK UI Jakarta
2. Coad and Dunstal, ( 2001) Anatomi dan Psyology For Midwifery, Mosby, London.
INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang
terjadi di rumah sakit atau di tempat pelayanan kesehatan lain, atau infeksi
yang disebabkan oleh mikrobia yang berasal dari rumah sakit.1 Menurut
WHO (2002): “Infeksi nosokomial adalah 1)infeksi yang diperoleh di rumah sakit
oleh pasien yang mendaftar masuk ke rumah sakit tanpa alasan infeksi dan 2)
Infeksi yang terjadi di rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lain pada
pasien yang tidak mengalami infeksi pada saat mendaftar di rumah sakit, termasuk
didalamnya infeksi yang baru nampak setelah pasien dilepas dari rumah sakit,
dan infeksi yang dialami oleh petugas pelayanan kesehatan.” 2
Infeksi bisa menular dari penderita ke
penderita, dari penderita ke petugas kesehatan, dari penderita ke pengunjung,
atau sebaliknya dari petugas ke penderita. Infeksi antar pasien atau antar
petugas kesehatan dengan pasien disebut cross
contamination.3 Infeksi nosokomial yang terjadi di tempat rawat
inap rumah sakit lebih mudah dikenali, bila dibanding dengan penyakit yang diperoleh
di tempat rawat jalan, karena untuk dikategorikan sebagai infeksi nosokomial
pada penderita harus dipenuhi kriteria berikut:1
1.
Adanya
infeksi yang jelas pada penderita selama dirawat di rumah sakit, atas dasar
tanda-tanda fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium.
2.
Pada
saat penderita mulai di rawat, tidak ditemukan tanda-tanda infeksi atau masa
inkubasi dari penyakit yang bersangkutan.
Infeksi nosokomial di rumah sakit,
baik yang terjadi pada penderita, maupun pada petugas rumah sakit, akan
memberikan dampak kerugian yang besar. Infeksi rumah sakit yang terjadi pada
penderita umumnya akan menyebabkan penyakit yang parah dan membutuhkan waktu
yang lama untuk sembuh. Hal ini disebabkan karena daya tahan tubuh dan status
gizi penderita yang jelek, disamping kenyataan bahwa sebagian besar penyebab
adalah bakteri komensal yang sudah kebal terhadap antibiotika. Ini akan menyebabkan
waktu perawatan yang lama atau kematian penderita sehingga angka morbiditas dan
mortalitas di rumah sakit meningkat dan ini akan menurunkan mutu rumah sakit
yang bersangkutan. Rumah sakit juga akan merugi karena masa inap penderita
menjadi lebih panjang sehingga hunian rumah sakit rendah. Perusahaan atau orang
yang menanggung biaya perawatan penderita merugi karena harus membayar lebih
tinggi dari seharusnya. Penderita pribadi merugi karena kehilangan waktunya
yang produktif selama dirawat di rumah sakit.Bila infeksi nosokomial mengenai
petugas, terutama bila mengenai tenaga ahli, maka kerugian pemerintah akan
sangat terasa, mengingat untuk mendidik seorang menjadi tenanga professional
diperlukan biaya besar dan waktu yang lama. Organisme penyebab infeksi
nosokomial dapat ditularkan pada masyarakat melalui pasien yang telah keluar
dari rumah sakit, pegawai rumah sakit, dan pengunjung rumah sakit.1,2,4
Ada tiga hal penting yang mempengaruhi
terjadinya infeksi nosokomial, yaitu:5
1.
Penggunaan
antimikrobia di rumah sakit dan unit pelayanan kesehatan. Infeksi oleh basil
negatif Gram pada tahun 1970-an hingga 1980-an meningkatkan penggunaan antibiotika
sefalosporin. Hal ini menyebabkan resistensi basil negatif Gram terhadap
sefalosporin sebagai antibiotika generasi pertama, dan karena itu dikembangkan antibiotika
generasi baru. Penggunaan sefalosporin yang meluas dianggap sebagai penyebab
enterococci menjadi patogen nosokomial. Pada saat yang bersamaan, Methicilin Resistant Staphylococcous aureus
(MRSA) juga menjadi ancaman sebagai penyebab infeksi nosokomial. Selanjutnya, penggunaan
vancomycyn yang meluas, sebagai respon atas MRSA dan untuk mengobati infeksi
oleh kateter vascular oleh staphylococci negatif koagulase, menyebabkan
fenomena Vancomycin Resistant Enterococci
(VRE). Penggunaan obat antimikrobia di rumah sakit dan transfer pasien antar
rumah sakit atau unit dalam rumah sakit telah menciptakan reservoir bagi strain
resisten di rumah sakit.
2.
Ada banyak petugas rumah sakit yang gagal
menerapkan usaha pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial, misalnya cuci
tangan di antara penanganan pasien satu dengan yang lain. Pada unit perawatan
intensif, cuci tangan seringkali dilupakan pada keadaan darurat.
3.
Pasien
di rumah sakit umumnya memiliki kekebalan tubuh yang lemah.
Mengingat hal-hal tersebut di atas,
maka sudah waktunya untuk melakukan tindakan-tindakan pengendalian infeksi nosokomial
di tempat-tempat pelayanan kesehatan pada umumnya dan di rumah sakit pada
khususnya.
RANTAI INFEKSI
Sama dengan infeksi pada umumnya, maka
rantai infeksi nosokomial juga dipengaruhi oleh 3 faktor penting, yaitu mikrobia
penyebab (Agent), penularan (transmission), dan inang (host).1
1.
Mikrobia
Mikrobia penyebab infeksi
nosokomial yang terbanyak adalah bakteri dan virus, sedang fungi dan parasit
jarang menyebabkan infeksi nosokomial. Bakteri penyebab infeksi nosokomial
umumnya adalah bakteri normal flora tubuh manusia, bakteri dari pasien
lain, atau bakteri dari benda atau bahan
yang telah terkontaminasi oleh mikrobia.1,2
Terjadinya infeksi
nosokomial tergantung pada sifat-sifat mikrobia yaitu resistensi terhadap bahan
antimikrobia, virulensi intrinsik, dan jumlah (inokulum) mikrobia. Saat ini
infeksi nosokomial sering disebabkan oleh
Staphylococcus aureus,
staphylococci negatif koagulase, enterococci, dan Enterobacteriaceae. 2
2.
Penularan
Penularan mikrobia pada
infeksi nosokomial juga bisa terjadi secara endogen atau eksogen yang port the outlet, cara penularannya, dan port the entry-nya hamper sama dengan
infeksi pada umumnya.
a.
Reservoir
infeksi
Reservoir infeksi adalah organ tubuh
petugas atau penderita sendiri, sputum, nanah, duh tubuh saluran reproduksi,
darah, dan cairan tubuh lainnya. Reservoir infeksi lain adalah cairan infuse,
air, atau makanan.1
Reservoir infeksi dapat dibagi menjadi
tiga golongan yaitu:2
1)
Flora
normal permanen atau transien dari pasien (infeksi endogen). Bakteri flora normal
dapat menyebabkan infeksi oleh penularan pada area di luar habitat alami flora
normal tersebut, oleh adanya luka, dan terapi antibiotika yang tidak rasional
yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan mikrobia tertentu (C. difficile, khamir). Bakteri negatif Gram yang menghuni saluran
pencernaan misalnya, dapat menyebabkan infeksi luka operasi setelah operasi
abdomen, atau infeksi saluran kemih setelah pasien diperlakukan dengan kateter.
2)
Bakteri
dari pasien lain atau dari petugas kesehatan (cross-infection eksogen). Bakteri ditularkan antar pasien (a) melalui
kontak langsung antar pasien (tangan, tetesan saliva, atau cairan tubuh lain),
(b) elalui udara (percikan atau debu yang terkontaminasi oleh bakteri pasien),
(c) melalui petugas yang terkontaminasi oleh karena merawat pasien (tangan,
baju, hidung, dan tenggorokan). Petugas kesehatan menjadi carrier permanent
atau transient, dan menularkan bakteri pada pasien lain melalui kontak langsung
ketika merawat pasien, (d) melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh pasien
(termasuk peralatan), termasuk pula tangan petugas kesehatan, pengunjung, dan
sumber lain di lingkungan seperti air dan makanan.
3)
Bakteri
yang berasal dari lingkungan unit pelayanan kesehatan (infeksi lingkungan
eksogen endemik atau epidemik). Beberapa jenis mikrobia dapat bertahan hidup
dengan baik di lingkungan rumah sakit dan unit pelayanan kesehatan, yaitu pada
(a) air, daerah lembab, dan pada produk steril dan desinfektan (Pseudomonas, Acinetobacter, Mycobacterium),
(b) pada benda-benda seperti seprai dan peralatan serta persediaan yang
digunakan dalam perawatan. Tata laksana rumah tangga rumah sakit yang baik
dapat menghambat kemampuan bertahan hidup bakteri di lingkungan rumah sakit
karena bakteri membutuhkan kelembababan dan nutrisi untuk hidup, (c) pada
makanan, (d) pada debu halus dan percikan yang timbul akibat batuk atau
berbicara.
b.
Sumber
infeksi
Yang bisa jadi sumber infeksi adalah
udara, air, darah, cairan infuse, makanan, obat, alat-alat medis.
Reservoir dan sumber infeksi bisa
berbeda tetapi bisa juga sama, misalnya: Reservoir dari Pseudomonas di rumah sakit mungkin adalah air pipa, tapi sumber
penularan kemungkinan adalah alat kedokteran misalnya kateter yang dicuci
dengan air tersebut.1
c.
Rute
infeksi
Penularan infeksi nosokomial sama
dengan penularan infeksi pada umumnya yaitu terjadi melalui satu atau lebih
rute penularan, yaitu lewat kontak langsung, common vehicle, udara (airborne),
pencernaan (makanan rumah sakit yang terkontaminasi), inokulasi (melalu
transfusi darah),6 infeksi oleh faktor endogen (dari normal flora
penderita), dan cross contamination.4
Macam-macam common vehicle adalah:1
·
Makanan
dan minuman (water-borne dan food-borne)
·
Darah
dan produk darah (virus hepatitis B, HIV)
·
Cairan
intravenous (Gram negative septicemia)
·
Obat-obatan,
susu (Salmonellosis)
·
Alat-alat
kedokteran yang terkontaminasi
3.
Tuan
Rumah
Pertahanan tubuh
(kekebalan) tuan rumah, baik yang spesifik maupun yang non-spesifik pada
penderita yang sedang dirawat di rumah sakit pada umumnya lebih rendah daripada
orang normal, terutama pada ibu hamil yang akan melahirkan.1
LINGKUNGAN
Lingkungan tempat pelayanan kesehatan
juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi mata rantai infeksi. Misalnya
lingkungan yang lembab dan gelap merupakan lingkungan yang sangat disenangi
oleh mikrobia, sebaliknya dengan keadaan lingkungan yang hangat dan disinari
matahari.1 Selain lingkungan yang lembab dan gelap, lingkungan yang
potensial sebagai sumber infeksi adalah permukaan yang terkontaminasi oleh
bahan organik (cairan tubuh manusia, flora mukosa), peralatan bedah dan
anestesi yang telah terpakai, ranjang rumah sakit, dan baju pelindung.3
Untuk mencegah terjadinya infeksi
nosokomial maka lingkungan harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
memungkinkan mikrobia untuk dapat hidup dan berkembang biak di tempat tersebut.
Beberapa faktor lingkungan bisa dikontrol dengan ketat, misalnya udara dan
jumlah orang yang berada dalam kamar operasi atau kamar bersalin, sedang faktor
yang lain tidak bisa dikontrol dengan baik.1
Perencanaan konstruksi rumah sakit
harus mempertimbangkan beberapa hal yaitu arus lalu lintas di dalam rumah sakit
untuk meminimalisir penularan infeksi, ruang yang memadai untuk memisahkan
pasien, jumlah kamar isolasi yang memadai, kemudahan untuk mencuci tangan,
bahan-bahan (misalnya karpet dan lantai) yang mudah dibersihkan, dan ventilasi
yang baik untuk ruang isolasi, ruang operasi, dan ruang transplantasi, serta pencegahan
atas terpaparnya pasien oleh spora jamur selama renovasi.2
1. Lalu lintas rumah sakit
Area di
rumah sakit dapat dibagi menjadi area pelayanan umum (makanan dan laundry, peralatan steril, dan
pendistribusian obat-obatan), pelayanan khusus (anestesiologi, pencitraan
medis, dan perawatan bedah intensif), serta area lain. Rumah sakit yang jelas pembatasan
area-areanya dapat digambarkan dengan diagram alir yang menggambarkan aliran
masuk keluarnya pasien, pengunjung, pegawai (dokter, perawat, dan paramedik),
perbekalan (barang-barang steril, katering, baju, dan lain-lain), serta aliran
udara, cairan, dan limbah.2
Diagram
alir juga berfungsi untuk memisahkan orang-orang yang menderita infeksi dari
pasien yang rentan terhadap infeksi dan perawat.7
1.
Udara
Infeksi
dapat ditularkan dalam jarak dekat oleh droplet yang besar, dan ditularkan
dalam jarak yang jauh melalui droplet yang kecil, yang umumnya terbentuk pada
saat batuk atau bersin. Droplet kecil (droplet
nuclei) dapat menetap di udara untuk waktu yang lama dan dapat menyebar di
lingkungan rumah sakit seperti bangsal rumah sakit dan ruang operasi, serta
dapat menginfeksi pasien secara langsung maupun tidak langsung melalui
peralatan medis yang terkontaminasi.2
Kegiatan
pembersihan seperti menyapu, mengelap dan mengepel dengan kain yang kering, dan
menguncang-guncang seprai, dapat membentuk aerosol yang mengandung mikrobia. Legionella pneumophila penyebab
legionellosis, dapat tinggal di udara melalui penguapan tetesan air dari menara
pendingin AC, atau pembentukan aerosol di kamar mandi pasien.2
Jumlah
mikrobia di udara tergantung pada jumlah orang dalam ruangan, banyaknya
aktivitas di dalam ruangan, dan laju pergantian udara. Karena itu diperlukan
sistem ventilasi yang baik untuk menyediakan udara yang segar yang telah
melalui penyaringan. Udara yang segar yang telah melalui penyaringan akan
mengurangi proporsi bakteri dan menghilangkan kontaminasi bakteri di udara.2
Sistem
ventilasi harus dirancang untuk meminimalisir kontaminasi mikrobia. Filter AC
harus dibersihkan secara berkala dan penggunaan kipas angin harus dihindari.
Pada daerah beresiko tinggi seperti ruang operasi, unit gawat darurat, dan unit
transplantasi dibutuhkan sistem ventilasi khusus.8
2.
Air
Sifat-sifat
fisika, kimiawi, dan bakteriologis air yang dipakai di unit pelayanan kesehatan
harus memenuhi standar yang telah ditetapkan pemerintah.2
a.
Air
minum. Air minum harus aman untuk dikonsumsi. Apabila tidak diolah dengan baik,
air minum dapat menyebabkan infeksi melalui kontaminasi fekal melalui kegiatan masak-memasak, mencuci, perawatan
pasien, dan bahkan melalui uap dan kegiatan menghirup aerosol. Mikrobia yang
hadir pada air keran seringkali menyebabkan infeksi nosokomial. Mikrobia ini
menyebabkan infeksi pada luka (luka bakar, luka operasi), saluran pernapasan,
dan lain-lain.2,8
b.
Air
untuk mandi. Air mandi dapat digunakan untuk higiene maupun untuk perawatan.
Mikrobia penyebab utama infeksi di sarana mandi adalah Pseudomonas aeruginosa, yang dapat menyebabkan follikulitis, otitis
eksternal, yang dapat diperparah oleh kondisi diabetes, imunosupresi, dan luka.2
c.
Air
medis. Air medis digunakan untuk keperluan medis, dan memiliki kriteria fisika,
kimiawi, dan bakteriologis tertentu. Air murni adalah air steril yang digunakan
untuk menyiapkan obat, jika tidak steril harus bebas pirogen. Air yang
digunakan untuk injeksi harus steril.2
3.
Makanan
Keracunan
makanan adalah infeksi dengan ciri sakit perut dan diare, dengan atau tanpa
muntah dan demam. Dibutuhkan sejumlah besar mikrobia yang tumbuh secara aktif
dalam makanan untuk menyebabkan infeksi. Air, susu, dan makanan padat, semuanya
merupakan vehicle infeksi. Pasien
rumah sakit lebih rentan terhadap keracunan makanan dibanding orang sehat.
Karena itu standar higiene yang tinggi pada bahan pangan harus dijaga.2
Kontaminasi
dapat disebabkan oleh penanganan makanan yang kurang tepat. Penanganan makanan
yang kurang tepat meliputi penyiapan makanan lebih dari setengah hari sebelum
dihidangkan, penyimpanan makanan pada suhu kamar, pendinginan yang kurang
memadai, pemanasan kembali yang kurang memadai, makanan yang kurang matang,
kontaminasi makanan mentah terhadap
makanan yang telah dimasak, dan kontaminasi dari pedagang bahan makanan.2
Hal-hal
yang perlu diperhatikan untuk mencegah keracunan makanan adalah (a) menjaga
area kerja masak-memasak yang bersih, (b) memisahkan bahan makanan mentah
dengan makanan yang sudah di masak, (c) menggunakan teknik memasak yang tepat
untuk menghindari pertumbuhan mikrobia pada makanan, (d) menjaga higiene
personal pedagang bahan makanan, terutama dalam hal cuci tangan, (e) mengganti
baju kerja setidaknya sekali sehari bagi pegawai, dan (f) menghindari kegiatan
mengolah makanan apabila menderita penyakit infeksi seperti masuk angin,
influenza, diare, muntah, dan infeksi kulit dan tenggorokan.2
4.
Kebersihan
Menjaga
kebersihan secara rutin sangat penting untuk memastikan lingkungan yang bersih
dan bebas debu. Biasanya ada banyak mikrobia yang hadir pada kotoran, dan
membersihkan secara rutin dapat membantu menghilangkan kotoran. Ruang kantor
dan administrasi hanya perlu dibersihkan secara domestik. Sebagian besar ruang
perawatan pasien harus dilap basah, dan lap kering sebaiknya dihindari.
Penggunaan deterjen dan air panas
meningkatkan efektivitas kegiatan membersihkan.8
5.
Limbah
Limbah
rumah sakit dan unit pelayanan kesehatan adalah reservoir patogen yang
potensial dan karena itu harus ditangani dengan tepat. Benda tajam yang
terkontaminasi oleh darah merupakan sumber penularan yang berbahaya. Limbah
dapat dibagi menjadi:2
a.
Limbah
yang dapat menyebabkan infeksi. Berupa limbah yang diduga mengandung patogen,
seperti kultur mikrobia, limbah dari luang isolasi, tisu dan swab, ekskreta,
serta bahan atau peralatan yang telah kontak dengan pasien yang mengalami
infeksi.
b.
Limbah
patologis. Berupa jaringan tubuh atau duh tubuh manusia, bagian tubuh, darah,
cairan tubuh lain, dan fetus.
c.
Limbah
benda tajam. Berupa jarum, peralatan infuse, skalpel, pisau, dan pecahan kaca.
d.
Limbah
farmasi. Berupa limbah yang mengandung bahan-bahan farmasi seperti bahan-bahan
farmasi yang kadaluwarsa atau tidak diperlukan lagi, dan benda-benda yang
terkontaminasi atau mengandung bahan-bahan farmasi seperti botol dan kotak.
e.
Limbah
sitotoksik. Berupa limbah yang mengandung bahan yang bersifat genotoksik
seperti limbah yang mengandung obat-obatan sitostatik, dan bahan kima
genotoksik.
f.
Limbah
kimia. Berupa limbah yang mengandung bahan kimia seperti reagen, film, dan
desinfektan yang kadaluwarsa atau tidak dibutuhkan lagi.
g.
Limbah
yang mengandung logam berat. Contohnya adalah baterai, termometer yang pecah,
alat pengukur tekanan darah, dan lain-lain.
h.
Limbah
radioaktif. Berupa limbah yang mengandung bahan radioaktif seperti cairan tak
terpakai dari bagian radioterapi atau penelitian di laboratorium, alat gelas,
bungkusan, dan kertas absorben yang terkontaminasi bahan radioaktif, urin dan
ekskreta pasien yang diuji dengan bahan radioaktif.
Limbah
harus diolah dengan baik dan benar. Sebaiknya limbah yang menyebabkan infeksi
dipisahkan dengan limbah yang tidak menyebabkan infeksi. Benda tajam harus
disimpan dalam wadah khusus yang terbuat dari plastik atau logam yang memiliki
tutup dan dilabel dengan simbol biohazard.
Benda tajam dan benda lain yang terkontaminasi oleh mikrobia harus diautoklaf atau
ditimbun. Sementara bagian tubuh manusia dan hewan, obat-obatan sitotoksik dan
bahan kimiawi laboratorium yang bersifat
toksik sebaiknya diinsinerasi. Sampah plastik dan merkuri tidak boleh
diinsinerasi. 8
FAKTOR-FAKTOR
PREDESPOSISI INFEKSI NOSOKOMIAL
Ada banyak faktor yang
dapat menyebabkan peningkatan infeksi pada pasien di rumah sakit antara lain
adalah menurunnya kekebalan tubuh pasien, beragamnya prosedur medis dan teknik
invasif yang menjadi sumber potensial rute infeksi, dan penularan bakteri resisten
obat antar populasi rumah sakit yang disebabkan oleh kurangnya praktek
pengendalian infeksi.2
·
Faktor
endogen
Tubuh manusia dalam keadaan normal
dihuni oleh mikrobia komensal yang tidak
berbahaya bagi yang bersangkutan, malah membantu misalnya dalam mencegeah
infeksi dari bakteri patogen karena dihasilkannya zat-zat tertentu oleh bakteri
komensal yang berbahaya bagi mikrobia lain.1
Namun bila dilakukan tindakan invasif,
misalnya pada pemasangan infus, kateter, tindakan dalam saluran lahir, dan lain-lain,
maka bisa terjadi kerusakan pertahanan tubuh setempat pada mukosa, sehingga
memungkinkan invasi mikroorganisme flora normal ke dalam jaringan. Dengan
menggunakan alat yang tidak steril, maka mikrobia komensal atau mikrobia
lingkungan bisa dipindahkan ke lokasi yang bukan habitat normal mikrobia
tersebut, sehingga mikrobia yang bersangkutan bisa berubah menjadi patogen. Mikrobia
yang demikian dikenal sebagai mikrobia yang oportunistik patogen.1
·
Faktor
rumah sakit
Rumah sakit adalah tempat yang dihuni oleh
banyak mikrobia patogen, yang dapat dipindahkan dari seorang penderita ke
penderita yang lain oleh tindakan petugas rumah sakit (cross contamination). Di rumah sakit banyak dilakukan tindakan
medis yang menggunakan alat, yang dapat merupakan vehicle bagi mikrobia untuk memasuki tubuh manusia.1 Rumah
sakit dan unit pelayanan kesehatan lain adalah tempat berkumpulnya penderita
penyakit infeksi dan orang yang rentan terhadap infeksi. Keadaan yang penuh
sesak di rumah sakit, transfer pasien dari satu unit ke unit lain yang sering
terjadi, serta berkumpulnya individu yang rentan terhadap infeksi pada suatu
lokasi yang sama (bayi yang baru lahir, pasien luka bakar, dan pasien perawatan
intensif), semua dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.2
Manajemen rumah sakit merupakan faktor
yang sangat besar pengaruhnya terhadap kejadian infeksi nosokomial. Persediaan
peralatan medis, keterampilan dokter, bidan dan perawat, dan asuhan kebidanan
dan keperawatan adalah sebagian faktor pencetus terjadinya infeksi nosokomial.
Karena itu angka kejadian infeksi nosokomial di satu rumah sakit dapat
dijadikan salah satu tolak ukur untuk melihat mutu pelayanan di rumah sakit
tersebut.1
·
Faktor
penderita
Penderita yang masuk rumah sakit
adalah orang-orang yang umumnya sudah lama sakit, sehingga mempunyai daya tahan
tubuh yang rendah, gizi yang jelek, dan dengan usia tua, yang semuanya
merupakan faktor yang dapat lebih mempermudah terjadinya infeksi. Pengobatan
steroid, obat immunosupresan, iradiasi, luka pada kulit dan membran mukosa,
serta malnutrisi juga merupakan faktor
yang dapat mempermudah infeksi. Beberapa prosedur diagnostik dan terapi seperti
biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi/ventilasi, dan prosedur bedah dapat
meningkatkan risiko infeksi apabila peralatan yang dipakai pada prosedur
tersebut terkontaminasi oleh mikrobia.1,2
·
Faktor
terapi antibiotika
Pemakaian antibiotika yang tak
terkendali dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri komensal yang berlebihan, dan
terjadinya kekebalan dari bakteri-bakteri komensal tubuh. Bakteri komensal yang
normal tidak berbahaya bagi tuan rumahnya, bila tumbuh menjadi banyak tentu
akan menyebabkan penyakit. Ini sangat berbahaya mengingat bakteri tersebut
adalah bakteri yang sudah kebal terhadap sebagian besar antibiotika (multidrug resistant bacteria).1
Beberapa strain pneumococci,
staphylococci, enterococci, dan tuberculosis saat ini telah resisten terhadap
beberapa atau bahkan semua obat antimikrobia yang dulunya efektif. Klebsiella dan Pseudomonas yang multiresisten ditemukan di beberapa rumah sakit.
Hal ini menjadi masalah di negara berkembang di mana obat antimikrobia jalur
kedua tidak tersedia atau harganya tidak terjangkau.2
Terapi dengan antimikrobia harus
berdasarkan evaluasi klinis yang teliti dan berdasarkan data epidemiologi lokal
mengenai patogen potensial dan sensitivitas patogen terhadap antibiotika.
Spesimen harus diperiksa dengan pewarnaan Gram, kultur, dan uji sensitivitas antibiotika,
sebelum terapi antibiotika dimulai. Terapi yang dipilih harus efektif, memiliki
toksisitas yang terbatas, dan memiliki spektrum yang sempit. Antibiotika
sebaiknya dikonsumsi secara oral jika mungkin. Konsumsi antibiotika secara
oral, parenteral, atau topikal dipilih berdasarkan hasil pemeriksaan klinis
mengenai lokasi dan parahnya infeksi. Kombinasi antibiotika harus diuji secara
selektif dan hanya untuk indikasi spesifik seperti enterococcal endocarditis, tuberkulosis, dan infeksi campuran.2
PENGENDALIAN
INFEKSI NOSOKOMIAL
Tujuan pengendalian infeksi nasional
di rumah sakit adalah:
Tujuan umum:
Untuk menciptakan kondisi lingkungan
rumah sakit yang memenuhi persyaratan agar menjamin tidak terjadinya infeksi
nosokomial dan membantu proses pengobatan dan penyembuhan penderita.1
Tujuan khusus:
Meningkatkan mutu pelayanan, cakupan,
dan efisiensi rumah sakit.1
Strategi pengendalian infeksi
nosokomial di rumah sakit:
I.
Pengawasan/surveilans infeksi nosokomial di rumah
sakit
Pengawasan
kejadian infeksi nosokomial dilakukan dengan mengumpulkan data kejadian infeksi
nosokomial. Sumber data yang dipakai pada pengawasan ini adalah dari semua unit
pelayanan, berupa data klinis penderita rawat inap, dan data dari laboratorium
mikrobiologi klinik. Juga informasi dari dokter atau perawat yang bertugas.
Pengumpulan data bisa dilakukan secara sistematik dan berkesinambungan. Data
dari laboratorium mikrobiologi klinik bisa dipakai sebagai peringatan dini
adanya infeksi nosokomial.1
Survailans
infeksi nosokomial meliputi koleksi data, analisis dan interpretasi data, dan
intervensi pencegahan infeksi nosokomial, serta evaluasi terhadap kegiatan
intervensi. Salah satu metode survailans adalah studi prevalensi di mana
infeksi pada semua pasien di rumah sakit atau salah satu unit pelayanan
kesehatan diindentifikasi pada waktu tertentu. Biasanya penyelidik akan mengunjungi
setiap pasien di rumah sakit dalam sehari, meninjau daftar medis, mewawancarai
petugas klinik untuk mengidentifikasi pasien yang mengalami infeksi, dan
mengumpulkan data faktor risiko infeksi. Hasilnya adalah penghitungan laju
prevalensi infeksi nosokomial.Laju prevalensi infeksi nosokomial dipengaruhi
oleh lama waktu pasien tinggal di rumah sakit dan lama waktu infeksi. Studi
prevalensi bersifat sederhana, cepat, dan relatif murah.2
II.
Pencegahan terjadinya infeksi nosokomial di rumah
sakit
Usaha untuk
mencegah terjadinya infeksi nosokomial ini dikenal sebagai standard precautions (kewaspadaan standar), yang sangat penting
dilakukan oleh setiap petugas kesehatan sewaktu bekerja melayani orang sakit. Kewaspadaan
standar ini dimaksudkan bukan saja untuk melindungi penderita dari kejadian
infeksi nosokomial, tapi juga akan melindungi petugas itu sendiri. Hal-hal yang
dilakukan pada kewaspadaan standar adalah:1,8
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja.
Cuci tangan
ada tiga macam yaitu:1,2
·
Cuci
tangan rutin: dilakukan dengan air mengalir dan sabun antiseptik. Cuci tangan
rutin misalnya dilakukan sebelum bekerja dimaksudkan untuk melindungi
penderita, sedangkan cuci tangan setelah bekerja disamping untuk melindungi
penderita lain, juga untuk melindungi diri petugas sendiri dari infeksi.
·
Cuci
tangan asepsis: dilakukan dengan air mengalir dan sabun antiseptik, kemudian
larutan savlon, dan alkohol 70% atau antiseptic yang lain. Cuci tangan asepsis
dilakukan misalnya setelah tangan kontak dengan darah atau duh tubuh penderita.
·
Cuci
tangan untuk pembedahan: disamping tangan dicuci dengan sabun, antispetik dan
air, maka harus dilakukan penyikatan kulit tangan minimal 15 menit untuk
menghilangkan sebanyak mungkin bakteri penghuni pori-pori kulit. Selain itu lengan
atas juga dicuci dengan sabun hingga bersih.
Cuci tangan
dilakukan pada saat (a) setelah menangani darah, duh tubuh, sekresi, ekskresi,
dan benda-benda yang terkontaminasi, (b) antara kontak dengan pasien berbeda,
(c) antara tugas yang berbeda pada pasien yang sama untuk menghindari
kontaminasi antara daerah tubuh yang berbeda, (d) sebelum dan sesudah memakai
sarung tangan.8
- Menghindari kontak langsung dengan darah dan duh tubuh lain.
Pada waktu
bekerja harus selalu dijaga agar bagian tubuh petugas tidak kontak dengan darah
atau duh tubuh penderita. Hal ini bisa dilakukan dengan memakai alat pelindung
tubuh pada waktu melakukan pelayanan atau tindakan medis yang memungkinkan
terjadinya kontak antara tubuh petugas dengan darah atau duh tubuh lain. Alat pelindung
tersebut adalah:1,2,4,8
1.
Baju
kerja, gaun operasi, jas praktikum atau celemek, yang dipakai sesuai dengan
jenis pekerjaan yang dilakukan. Baju kerja harus terbuat dari bahan yang mudah
dicuci dan mudah didekontaminasi. Baju kerja harus diganti apabila terkena
darah atau duh tubuh lain, atau apabila basah karena keringat. Pada keadaan
dimana ada kemungkinan darah atau duh tubuh bisa mencemari kaki, maka harus
digunakan sepatu yang tertutup.
2.
Sarung
tangan dipakai untuk melindungi tangan dari pencemaran darah atau duh tubuh.
Jenis sarung tangan yang dipakai pun harus sesuai dengan pekerjaan medis dan
sarung tangan domestik dipakai pada pekerjaan non-medis, misalnya pada saat
perawat memandikan penderita atau pada saat melakukan pekerjaan pembersihan lingkungan.
Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah menggunakan sarung tangan. Sarung
tangan harus diganti apabila menangani pasien yang berbeda, atau pada tugas
yang berbeda pada pasien yang sama.
3.
Masker,
penutup kepala, dan kaca mata, dipakai sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.
Masker dan kaca mata dipakai bila ada kemungkinan adanya percikan darah atau
duh tubuh, misalnya pada operasi atau waktu menolong persalinan. Penutup kepala
dipakai bersama masker untuk menghindari penderita dari pencemaran bakteri yang
berasal dari tubuh petugas. Di samping itu masker juga dipakai untuk melindungi
petugas dari penularan bakteri lewat udara, misalnya bila bekerja di
laboratorium mikrobiologi.
4.
Wadah
tempat bahan pemeriksaan, terutama darah dan duh tubuh dari saluran reproduksi,
harus tertutup rapat. Membawa bahan pemeriksaan ke laboratorium tidak boleh
dipegang dengan tangan telanjang, dan harus ditempatkan pada tempat khusus
dimana terjamin wadah tempat bahan pemeriksaan tersebut tidak bisa tumpah.
Alat pelindung
tubuh sebaiknya digunakan oleh petugas kesehatan, pegawai pendukung (petugas cleaning service, pegawai laundry), pegawai laboratorium, dan
anggota keluarga yang merawat pasien.8
- Melakukan dekontaminasi alat medis dan non-medis yang sudah tercemar darah atau duh tubuh lain.
Semua alat dan
barang yang terkontaminas dengan darah atau duh tubuh penderita, sebelum dicuci
harus didekontaminasi dulu dengan merendamnya dalam cairan Sunclin (chlorine)
0,5-5% selama 5-10 menit. Dengan merendam dalam cairan Sunclin 0,5% maka semua
virus sudah dimatikan dalam 5 menit. Dekontaminasi ini terutama bertujuan untuk
melindungi petugas dari kemungkinan tertular infeksi.1
Alat non-medis
misalnya alat makan pada tempat perawatan penyakit yang menular melalui saluran
pencernaan, harus disterilkan dengan cara dekontaminasi tingkat tinggi yaitu
dimasak sampai mendidih minimal 30 menit.1
- Menggunakan alat yang steril
Semua alat
medis harus disterilkan sebelum dipakai untuk melindungi penularan infeksi pada
penderita. Mengingat bahwa spoit dan jarum suntik dapat merupakan alata
transportasi mikroorganisme utamanya virus, maka dalam penggunaan spoit dan
jarum suntik, jarum infuse, sangat dianjurkan untuk memakai jarum yang
diposibel. Untuk mengambil contoh darah yang paling aman untuk penderitan dan
petugas dianjurkan penggunaan alat pengambil darah yang disebut vakutainer.1
Sterilisasi
dapat dilakukan dengan dua macam cara yaitu:2
1.
Sterilisasi
termal
a.
Sterilisasi
basah. Benda yang akan disterilisasi dipanaskan dengan uap air 120°C selama 30
menit, atau 134°C selama 13 menit di dalam autoklaf.
b.
Sterilisasi
kering. Benda yang akan disterilisasi dipanaskan pada suhu 160°C selama 120
menit, atau 170°C selama 60 menit.
2.
Sterilisasi
kimiawi
a.
Sterilisasi
dengan etilen oksida dan formaldehida. Metode sterilisasi seperti ini sudah
tidak lagi digunakan karena alasan keamanan dan efek rumah kaca.
b.
Asam
parasetat digunakan pada sistem sterilisasi otomatis.
- Dekontaminasi sampah dan limbah medis
Yang dimaksud
dengan sampah/limbah medis adalah semua benda yang tidak diperlukan lagi, yang
berasal dari tubuh penderita atau pernah menyentuh darah atau duh tubuh
penderita. Sampah medis bisa berbentuk cair atau padat.1
Sampah medis
harus disimpan dalam wadah yang terpisah dari sampah domestik. Sampah medis
bisa dibedakan atas sampah medis cair, sampah medis padat, dan sampah tajam,
yang ketiganya juga harus dipisahkan satu dari yang lain.1
1.
Sampah
medis cair, misalnya urin, atau darah/serum penderita, harus dimasukkan ke
dalam wadah dengan sunclin 5%, biarkan minimal 30 menit lalu dibuang ke tempat
saluran air. Sputum harus dimasukkan dalam larutan lisol 10% minimal 1 jam baru
dibuang ke saluran air.1
2.
Sampah
medis padat, misalnya kain kasa bekas pakai, potongan jaringan tubuh penderita,
spoit dan jarum suntik dan lain-lain alat disposibel yang telah dipakai pada
penderita. Jarum dan lain-lain sampah tajam harus didekontaminasi terpisah dari
sampah medis padat yang lain. Setelah sampah medis padat didekontaminasi, baru
dibawa ke tempat penghancuran sampah atau tempat penghancuran logam.1
- Menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan
1.
Meja
tempat bekerja terutama pada pekerjaan yang ada hubungannya dengan darah dan
duh tubuh manusia, harus dibersihkan dengan larutan desinfektan (lisol) setelah
pekerjaan selesai dikerjakan. Percikan darah atau cairan tubuh di atas meja,
harus dituangi larutan desinfektan dan dibiarkan minimal 1 jam sebelum
dibersihkan.1
2.
Lantai
harus disapu dan dislaber dengan larutan desinfektan minimal satu kali dalam
satu hari. Bila ada tumpahan darah atau cairan tubuh penderita pada lantai,
maka harus dituangi larutan desinfektan dan dibiarkan minimal 1 jam sebelum
dibersihkan.1
Dinding kamar operasi
harus dilap dengan desinfektan minimal satukali dalam seminggu, dan disinari
sinar ultra-violet pada saat kamar operasi tidak digunakan. Untuk mencegah
kecelakaan karena sinar ultra-violet, maka harus diberi tanda di luar kamar
bila lampu ultra-violet sedang menyala.1
3.
Mobiler
yang ada dalam ruang kerja atau ruang perawatan, misalnya meja instrumen di
kamar operasi, tempat tidur dan lemari di kamar perawatan harus juga dilap
dengan desinfektan minimal sekali dalam seminggu, dan pada saat penderita
meninggalkan rumah sakit.1
4.
Pembersihan
umum harus dilakukan minimal sekali dalam seminggu di semua unit pelayanan.1
5.
Mesin
pendingin ruangan harus dibersihkan minimal setiap 3 bulan untuk menjamin
kebersihan udara yang beredar dalam ruangan.1
III.
Pengobatan yang rasional terhadap penyakit infeksi
Rumah sakit harus melakukan pengawasan
penggunaan antibiotika dengan ketat dan melakukan monitoring kepekaan bakteri
yang diisolasi di rumah sakit terhadap antibiotika. Penggunaan antibiotika yang
tidak rasional dapat menyebabkan perubahan kepekaan bakteri misalnya karena
mutasi.1
Bakteri yang menyebabkan infeksi
nosokomial umumnya disebabkan oleh strain yang resisten terhadap antibiotika,
sehingga dapat menyebabkan kegagalan dalam terapi antibiotika. Pasien juga
tidak dapat sembuh segera walaupun diterapi dengan antibiotika karena sistem
kekebalan tubuh yang lemah dan penggunaan alat medis yang invasif. Dengan
demikian pemilihan antibiotika yang akan digunakan dalam terapi harus
berdasarkan pengetahuan mengenai mikrobia penyebab infeksi, dan pola lokal
kepekaan antibiotika mikrobia tersebut. Hadirnya mikroorganisme tanpa gejala
klinis infeksi tidak dapat diterima sebagai alasan untuk terapi dengan
antimikrobia. Penggunaan antimikrobia dengan spektrum luas yang tidak perlu
dapat meningkatkan resistensi antibiotika dan resiko reaksi toksik dan alergi.3
IV.
Program pengendalian infeksi nosokomial,
sosialisasi, dan pelatihan
Untuk dapat melaksanakan semua
strategi pengendalian infeksi dengan baik maka harus dilakukan sosialisasi dan
pelatihan. Sosialisasi dilakukan terhadap semua pegawai rumah sakit, mulai dari
administrasi sampai para professional, serta masyarakat umum. Sosialisasi untuk
masyarakat pengguna rumah sakit bisa dilakukan melalui marka-marka peringatan,
selebaran-selebaran, ceramah, mass-media tulisan dan elektronik dan lain-lain
media komunikasi.1
Pelatihan dilakukan terhadap pegawai
rumah sakit utamanya yang bekerja pada daerah-daerah rawan infeksi. Pelatihan
dilaksanakan dengan kurikulum pelatihan orang dewasa, yang bertujuan agar semua
pegawai rumah sakit dapat melaksanakan program pengendalian dengan benar,
sehingga mutu pelayanan akan meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan
pendapatan pegawai.1
Bagian-bagian dalam rumah sakit memiliki
peranan yang penting dalam program pengendalian infeksi nosokomial, yaitu:2
1.
Manajemen rumah sakit
·
Membentuk
Komite Pengendalian Infeksi yang multidisipliner, dan meninjau, menyetujui, dan
mengimplementasi kebijakan yang dibuat oleh Komite Pengendali Infeksi.
·
Mengidentifikasi
sumber-sumber yang tepat untuk program pengendalian infeksi untuk memonitor
infeksi dan menerapkan metode yang tepat untuk mengendalikan infeksi.
·
Memastikan
pendidikan dan pelatihan seluruh pegawai mengenai program pencegahan infeksi,
dan mengenai teknik desinfeksi dan sterilisasi.
·
Meninjau
status infeksi nosokomial dan efektivitas usaha pengendalian infeksi secara berkala.
2.
Dokter
- Perawatan pasien dilakukan sedemikian rupa sehingga meminimalisir terjadinya infeksi.
- Menerapkan perilaku higienis seperti cuci tangan yang benar.
- Melindungi pasiennya dari pasien lain yang terinfeksi, dan dari petugas rumah sakit yang terinfeksi.
- Mengambil sampel mikrobiologis yang tepat apabila terjadi infeksi atau diduga terjadi infeksi.
- Memperhatikan aturan penggunaan antibiotika.
- Menasehati pasien, pengunjung, dan petugas rumah sakit mengenai teknik pencegahan penularan infeksi
- Melaksanakan pegobatan terhadap infeksi pada diri sendiri dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah penularan infeksi tersebut pada orang lain terutama pasien.
3.
Mikrobiolog rumah sakit
- Menangani spesimen dari pasien dan pegawai dengan baik untuk mengoptimalkan diagnosa mikrobiologis.
- Mengembangkan pedoman untuk koleksi, transportasi, dan penangan spesimen yang tepat.
- Memastikan agar tata laksana laboratorium memenuhi standar yang ada.
- Memastikan tata laksana laboratorium yang aman untuk mencegah infeksi pada pegawai.
- Melaksanakan uji kepekaan antimikrobia menurut metode yang telah diakui, dan menyediakan laporan ringkasan mengenai prevalensi resistensi antimikrobia.
- Memonitor sterilisasi, disinfeksi, dan lingkungan apabila diperlukan.
4.
Apoteker rumah sakit
- Memperoleh, menyimpan, dan mendistribusi obat-obatan dengan cara yang dapat menghambat penularan agen infektif kepada pasien.
- Menyalurkan obat-obatan anti infeksi dan menyimpan catatan mengenai potensi, inkompatibilitas, dan syarat penyimpanan obat.
- Menyimpan catatan mengenai antibiotika yang telah disalurkan.
- Menyediakan informasi berikut mengenai desinfektan, antiseptik, dan agen anti-infeksi lainnya: (a) sifat-sifat aktif seperti konsentrasi, suhu, masa efektif, dan spektrum antibiotika, (b) sifat-sifat toksik, termasuk sensitisasi atau iritasi kulit dan mukosa, (c) inkompatibilitas senyawa lain, (d) kondisi fisik yang berakibat buruk bagi efektivitas obat selama penyimpanan seperti suhu, cahaya, dan kelembaban, (e) efek berbahaya.
5.
Perawat
- Menjaga higiene yang selaras dengan kebijakan rumah sakit dan praktek perawatan yang baik.
- Memonitor teknik aseptik, termasuk cuci tangan dan isolasi.
- Melapor segera kepada dokter mengenai bukti adanya infeksi pada pasien yang dirawat oleh perawat.
- Melaksanakan isolasi pasien dan memperoleh kultur spesimen dari pasien yang menunjukkan tanda-tanda penyakit apabila dokter tidak berada di tempat.
- Membatasi pemaparan pasien terhadap infeksi dari pengunjung, petugas rumah sakit, pasien lain, atau peralatan yang digunakan dalam perawatan.
- Menjaga tersedianya obat yang cukup dan peralatan yang aman di bangsal.
6.
Pelayanan makanan rumah sakit
Pimpinan
pelayanan makanan harus memahami mengenai keamanan pangan (food safety), pelatihan pegawai, penyimpanan dan pengolahan
makanan, analisis pekerjaan, dan penggunaan alat. Tugas-tugas lainnya adalah:
- Menentukan kriteria dalam membeli makanan, penggunaan alat, dan langkah-langkah pembersihan untuk memelihara tingkat keamanan pangan yang tinggi.
- Memastikan agar semua peralatan dan area kerja dan area penyimpanan tetap dalam keadaan bersih.
- Membuat kebijakan tertulis dan instruksi mengenai cuci tangan, pakaian, tanggungjawab pegawai dan tugas desinfeksi harian.
- Membuat kebijakan tertulis mengenai pencucian piring dan perangkat makan setelah digunakan, khususnya mengenai perangkat makan yang berhubungan dengan pasien isolasi atau terinfeksi.
- Memastikan penanganan limbah yang tepat.
- Membuat program pelatihan pegawai untuk pengolahan makanan, kebersihan, dan keamanan pangan.
7.
Pelayanan laundry rumah sakit
- Memilih kain yang tepat untuk digunakan di area yang berbeda di rumah sakit, mengembangkan kebijakan mengenai pakaian kerja di setiap area dan pada setiap kelompok atau pegawai.
- Menyalurkan pakaian kerja.
- Mengembangkan kebijakan mengenai cara koleksi dan transportasi kain seprai yang kotor.
- Menentukan metoda desinfeksi kain seprai yang terkontaminasi, baik sebelum dibawa ke laundry maupun ketika berada di dalam laundry.
- Mengembangkan kebijakan mengenai cara melindungi kain seprai dari kontaminasi selama transport ke area di mana kain seprai akan digunakan.
- Memastikan alur penggunaan kain seprai yang tepat, dan pemisahan area kotor dan bersih.
- Merekomendasi cara-cara mencuci (misalnya suhu dan lama pencucian).
- Memastikan keamanan bagi pekerja laundry melalui pencegahan terhadap luka oleh benda tajam dan kontaminasi oleh patogen.
8.
Cleaning service rumah sakit
Cleaning service bertanggung jawab atas pembersihan
rutin pada semua permukaan di rumah sakit dan bertanggung jawab untuk menjaga
higiene tingkat tinggi di rumah sakit. Tugas-tugas lainnya adalah:
- Mengklasifikasi area yang berbeda di rumah sakit berdasarkan kebutuhan untuk dibersihkan.
- Mengembangkan kebijakan mengenai teknik pembersihan yang tepat, yaitu mengenai prosedur, frekuensi, dan bahan pembersih yang digunakan untuk tiap tipe ruangan, dari ruangan yang paling terkontaminasi hingga ruangan yang paling bersih.
- Mengembangkan kebijakan mengenai koleksi, transportasi, dan pembuangan berbagai macam limbah.
- Menginformasika pada bagian perlengkapan mengenai masalah gedung yang perlu diperbaiki, misalnya retakan pada gedung rumah sakit, kerusakan pada peralatan listrik, dan lain-lain.
- Memelihara bunga dan tanaman.
- Mengendalikan hama (serangga, binatang pengerat).
PROSEDUR
ISOLASI PASIEN INFEKSI
Pasien yang mengalami infeksi dapat
menularkan penyakitnya pada pasien lain, baik melalui kontak langsung maupun
melalui kontak dengan petugas kesehatan. Karena itu penderita infeksi perlu
diisolasi, yaitu dipisahkan dari pasien lain yang tidak mengalami infeksi.
Tidak semua pasien yang terinfeksi menunjukkan gejala klinis, sehingga pada
tingkat tertentu kewaspadaan harus dilakukan terhadap semua pasien. Kewaspadaan
seperti ini disebut Kewaspadaan Standar (Standard
precautions), meliputi pemaikaian gaun dan sarung tangan apabila kontak
dengan darah atau sekresi pasien. Hal ini terutama bertujuan untuk melindungi
petugas rumah sakit dari infeksi HIV dan Hepatitis.7,9
Apabila pasien terbukti mengalami
infeksi melalui pemeriksaan klinis, maka yang berlaku adalah Kewaspadaan
Berdasarkan Penularan (Transmission based
precautions). Berdasarkan rute infeksi, Kewaspadaan Berdasarkan Penularan
terbagi atas:7,9
1.
Kewaspadaan
penularan melalui udara (airborne),
berlaku untuk infeksi yang ditularkan oleh partikel yang sangat kecil (<5um akan="" apabila="" bedah="" daerah="" dalam="" dan="" di="" dibanding="" diisolasi="" dipertahankan="" hal="" harus="" ini="" isolasi="" khusus="" masker="" memasuki="" mempersyaratkan="" menderita="" menggunakan="" negatif="" orang="" pada="" pasien="" relatif="" respirator="" ruangan="" sekitarnya.="" sirkulasi="" span="" tekanan="" tersuspensi="" tuberkulosis.="" udara.="" udara="" yang="">5um>
2.
Kewaspadaan
penularan melalui droplet, berlaku untuk infeksi yang disebabkan oleh droplet
yang lebih besar, yang juga tersuspensi di udara, akan tetapi tidak dapat
terbang jauh. Untuk mencegah penularan, cukup digunakan gaun, sarung tangan,
dan masker apabila akan menangani pasien.
3.
Kewaspadaan
penularan melalui kontak, berlaku untuk infeksi yang membutuhkan kontak
langsung dengan mikrobia atau sekreta pasien, terutama penularan diare.
Kebijakan isolasi pasien harus mencantumkan
fasilitas dan prosedur yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi pada
pasien lain (isolasi sumber) dan untuk melindungi pasien dengan sistem
kekebalan yang lemah dari infeksi (isolasi protektif). Ruangan dengan beberapa
tempat tidur dapat digunakan untuk isolasi, akan tetapi ruangan dengan tempat tidur tunggal merupakan
fasilitas yang lebih baik dan sebaiknya digunakan jika memungkinkan. Setiap
ruang isolasi sebaiknya memiliki fasilitas kamar mandi dan cuci tangan sendiri.
Udara yang memasuki ruangan sebaiknya udara yang bersih dan telah disaring.
Tekanan udara dalam ruangan isolasi harus negatif dibanding ruangan di
sekitarnya untuk isolasi sumber, dan tekanan yang positif dibanding ruangan di
sekitarnya untuk isolasi protektif.4
DAERAH DI RUMAH SAKIT YANG RAWAN INFEKSI NOSOKOMIAL
Pada dasarnya semua unit pelayanan,
satuan pelayanan dan instalasi pelayanan yang berhubungan dengan penderita atau
dengan darah dan duh tubuh penderita merupakan daerah yang rentan terhadap
infeksi nosokomial. Juga pada pelayanan dimana dirawat penderita dengan
pertahanan tubuh yang tidak normal atau lemah. Misalnya pada unit pelayanan
rawat intensif, ruang perawatan bayi, ruang perawatan geriatri, atau ruang
perawatan penderita yang mendapat pengobatan khemoterapi dan lain-lain obat
yang menekan sistem pertahanan tubuh.1
Bagi penderita resiko terkena infeksi
nosokomial tentu lebih besar pada unit-unit pelayanan dimana banyak dilakukan
tindakat medis, misalnya di Unit Pelayanan Intensif, Unit Pelayanan Hemolisa,
Unit Pelayanan Bedah, dan Unit Pelayanan Gigi dan Mulut. Tingginya resiko
infeksi nosokomial pada penderita-penderita yang dirawat pada unit rawat
intensif, dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:1
·
Kebanyakan
penderita yang dirawat pada unit ini, menderita penyakit berat yang menyebabkan
turunnya daya tahan tubuh
·
Pada
penderita penyakit yang serius biasanya terjadi perubahan flora normal dari
usus. Penggunaan antibiotika menyebabkan perubahan flora normal, sehingga usus
lebih banyak dihuni oleh mikrobia-mikrobia yang resisten terhadap lebih dari
satu antibiotika (bakteri multiresisten).
·
Pada
unit ini biasanya penderita menjalani bermacam-macam prosedur invasive, baik
untuk terapi maupun untuk monitoring, yang semuanya dapat menjadi vehicle yang
potensial untuk penyebaran infeksi, atau memindahkan mikrobia dari habitat
normalnya tempat lain.
·
Biasanya
prosedur untuk penyelamatan hidup penderita lebih diperhatikan, bila dibanding
dengan prosedur untuk pencegahan infeksi.
·
Penempatan
penderita dalam jarak yang dekat memudahkan penularan penyakit infeksi.
Daerah beresiko untuk petugas bisa
dibagi atas 3 kategori, yaitu:1,2
- Daerah beresiko tinggi, dimana kemungkinan ada pemaparan dan kecipratan darah atau duh tubuh, atau di tempat dimana ada perdarahan massif, misalnya kamar operasi dan kamar bersalin.
- Daerah beresiko sedang, dimana kemungkinan ada pemaparan tanpa kecipratan darah atau duh tubuh, misalnya kamar pelayanan Keluarga Berencana.
- Daerah beresiko rendah, dimana petugas hanya kontak dengan kulit atau mukosa utuh, dan tidak ada pemaparan langsung dengan darah dan duh tubuh, misalnya kamar periksa ibu hamil.
Frekuensi terjadinya infeksi
nosokomial di wilayah Asia Tenggara termasuk yang tertinggi yaitu 10,0%.2
Infeksi yang paling sering terjadi adalah infeksi saluran kemih, infeksi luka
operasi, infeksi saluran pernapasan,2, infeksi saluran cerna,
infeksi ibu dan bayi, dan infeksi jarum infus.7
1. Infeksi
saluran kemih
Infeksi
saluran kemih merupakan bentuk infeksi nosokomial yang paling umum (40%) dan
dapat menyebabkan bakteremia bahkan kematian. Infeksi saluran kemih nosokomial
biasanya berhubungan dengan pemakaian kateter pada saluran kemih (80%). Adanya
infeksi ditentukan oleh indikasi mikrobiologis (105 mikrobia/ml),
dan bakteri penyebab biasanya berasal dari saluran pencernaan, baik flora
normal (Escherichia coli) maupun
flora yang diperoleh selama hospitalisasi (Klebsiella
multiresisten). Infeksi saluran kemih yang dapat terjadi oleh mikrobia tersebut
adalah pyelonefritis, sistisis, prostatitis, uretritis, dan bakteri uria. 2,7
Untuk
mencegah infeksi saluran kemih nosokomial, pemakaian kateter dan lama pemakain
harus dibatasi, yaitu hanya digunakan apabila benar-benar diperlukan. Prosedur
aseptis, higiene, pemakaian lubrikasi, dan penggunaan sarung tangan steril
harus diperhatikan pada saat pemasangan kateter.2,7
2. Infeksi
luka operasi
Infeksi
luka operasi nosokomial juga umum terjadi (0,5-15%), dicirikan oleh nanah, atau
selulitis yang menyebar di sekitar luka operasi beberapa bulan setelah operasi
dilaksanakan. Infeksi biasanya diperoleh selama operasi, baik secara eksogen
yaitu dari udara, peralatan medis, dokter bedah, maupun petugas kesehatan lain,
maupun secara endogen yaitu dari flora normal kulit, maupun dari darah yang
digunakan pada saat operasi. Jenis mikrobia yang menginfeksi beragam,
tergantung pada tipe dan lokasi pembedahan, maupun pada antimikrobia yang telah
diterima oleh pasien. Faktor risiko utama adalah besarnya kontaminasi yang
terjadi selama operasi yang dipengaruhi oleh lama operasi dan kondisi pasien.
Faktor lain yang menyebabkan risiko infeksi adalah kualitas teknik pembedahan, adanya
peralatan asing di dalam tubuh (pipa), virulensi mikroorganisme, infeksi di
daerah lain pada tubuh, pencukuran sebelum operasi, dan pengalaman tim bedah.2
Untuk
mencegah infeksi luka operasi, perlu diperhatikan penerapan teknik bedah yang
baik, ruang operasi dan lingkungan operasi yang bersih, adanya pembatasan
jumlah petugas rumah sakit yang dapat memasuki ruang operasi, pakaian kerja
yang khusus di ruang operasi, peralatan operasi yang steril, perlakuan
pra-operasi yang memadai terhadap pasien, pemakaian antimikrobia yang tepat
untuk profilaksis, dan program survailans luka bedah. Bakteri di udara harus
diminimalisir, dan semua permukaan harus tetap bersih. Pembersihan harus
dilakukan pada pagi hari, antara kegiatan operasi, dan setelah jam kerja.2
Pada
kegiatan operasi tertentu, adanya infeksi pada pasien harus diidentifikasi
sebelum operasi. Pasien yang kekurangan gizi harus ditingkatkan gizinya sebelum
operasi. Pasien harus dimandikan pada malam sebelum operasi dengan menggunakan
sabun antimikrobia. Rambut dihilangkan dengan cara pengguntingan, bukan
pencukuran. Seluruh tubuh pasien harus ditutupi dengan kain steril kecuali area
yang akan dioperasi.2
3. Infeksi
saluran napas
Pneumonia
nosokomial sering terjadi pada pasien di ruang perawatan intensif yang
menggunakan ventilator. Mikrobia
berkolonisasi di lambung, saluran pernapasan atas dan bronchi dan menyebabkan
infeksi pada paru-paru (pneumonia). Mikrobia ini seringkali bersifat endogen
(berasal dari sistem pencernaan atau hidung dan tenggorokan), tapi dapat pula
bersifat eksogen, yaitu dari peralatan pernapasan yang terkontaminasi oleh
mikrobia. Risiko infeksi nosokomial dapat disebabkan oleh lama pemasangan
ventilator, kualitas perawatan sistem pernapasan, kondisi pasien, dan antibiotika
yang pernah dipakai oleh pasien.2
Infeksi
saluran pernapasan nosokomial yang lain adalah Respiratory Sincytial Virus (RSV) yang umum terjadi di unit
perawatan anak, dan influenza serta pneumonia sekunder yang dapat terjadi di
unit perawatan lansia. Penyakit RSV disebabkan oleh virus yang ditularkan
melalui kontak tangan-hidung dan tangan-mata.10 Mikrobia golongan
Acinetobacter seringkali menyebabkan pnemumonia nosokomial.6Pasien
dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat mengalami pneumonia oleh Legionella dan Aspergillus. Penularan tuberkulosis di unit pelayanan kesehatan
juga dapat menjadi masalah yang pelik di negara-negara dengan prevalensi
tuberkulosis yang tinggi.2
4. Infeksi
saluran cerna
Diare
nosokomial adalah masalah yang umum terjadi di rumah sakit dan fasilitas
perawatan anak. Diare nosokomial seringkali disebabkan oleh penanganan makanan
rumah sakit yang kurang baik oleh pegawai yang bertanggungjawab untuk menangani
makanan rumah sakit. Penanganan makanan yang kurang baik dan tidak aman
meliputi penyimpanan, penyiapan, dan pengolahan daging, ayam, dan ikan mentah,
serta telur segar dan beberapa jenis sayuran. Kualitas air minum yang kurang
baik dan terkontaminasi juga dapat menyebabkan diare nosokomial. Mikrobia
infektif yang menyebabkan diare ditularkan melalui makan dan minum, dari pasien
yang memegang kontaminan (misalnya feses), lalu tanpa cuci tangan yang benar
menyentuh mulutnya, dari tangan petugas kesehatan, dan lain-lain.7
Bakteri
penyebab diare di rumah sakit sangat beragam, termasuk di antaranya Salmonella,
Shigella, Clostridium difficile, Vibrio cholera, Candida albicans, Staphylococcu
aureus, cryptosporidium, rotavirus, dan beberapa enterovirus, misalnya Escherichia coli.7
Enterococci seringkali menyebabkan infeksi nosokomial terutam di unit perawatan
intensif. Enterococci ditularkan dari satu pasien ke pasien lain umumnya
melalui tangan petugas kesehatan, atau melalui alat kesehatan.6 Hal-hal
yang dapat dilakukan untuk mencegah diare nosokomial adalah menjaga sanitasi
dan higiene dan menerapkan prosedur penanganan makanan yang sehat dan aman.7
5. Infeksi
post partum
Di
negara berkembang, infeksi post partum merupakan penyebab kedua kematian ibu
melahirkan setelah hemorrhage post partum. Endometritis, adalah salah satu
penyakit infeksi post partum pada endometrium dan myometrium, dengan gejala
demam, uterus yang lunak, sakit pada abdominal bawah, bau pada ekskreta vagina,
dan peritonitis pada wanita yang mengalami operasi caesar. Operasi caesar
merupakan faktor utama yang mempengaruhi frekuensi dan keparahan endometritis
post partum. Infeksi post partum lain adalah infeksi luka operasi pada operasi
caesar, infeksi saluran kemih, infeksi episiotomi, pneumonia, septisemia, dan
mastitis.7
Sebagian
besar infeksi postpartum disebabkan oleh flora endogen, yaitu flora normal yang
umum terdapat pada saluran genital tetapi tidak menyebabkan penyakit, sampai terjadinya
persalinan atau postpartum. Sebanyak hampir 30 bakteri telah diidentifikasi
pada saluran genital bawah (vulva, vagina, dan cervix). Beberapa di antara
bakteri tersebut dan beberapa fungi bersifat non-patogenik, akan tetapi 20
jenis di antaranya, termasuk E.coli, S.aureus, Proteus mirabilis, dan Klebsiella
pneumoniae termasuk patogenik.7
Infeksi
pada janin dan bayi yang baru lahir ada tiga macam yaitu:Tietjen
a.
infeksi
yang ditularkan secara transplasental (in
utero), disebabkan oleh virus (cytomegalovirus, rubella, varicellan, HIV,
dan parovirus), protozoa (toxoplasmosis gondii), dan bakteri (sifilis kongenital).
b.
Infeksi
intrapartum (pada saat persalinan), disebabkan oleh virus (hepatitis B,
hepatitis C, HIV, virus herpes simpleks, human
papillomavirus, dan parovirus), dan bakteri (E.coli, Streptococci grup B, Candida), dan terbentuknya conjunctivitis oleh Chlamydia, gonorrhea,
atau Listeria monocytogenes, dan
sejumlah infeksi lain yang disebabkan oleh basili anaerobic negatif Gram.
c.
Infeksi
neonatal pada bulan-bulan pertama kelahiran, disebabkan oleh virus
(cytomegalovirus, enterovirus, RSV, dan rhinovirus), protozoa (malaria), dan
bakteri (tuberkulosis dan tetanus).
Semmelweis
dan Holmes secara terpisah menunjukkan bahwa demam pada anak dan endometritis
disebarkan dari ibu ke ibu melalui tangan para dokter, akan tetapi dapat
dicegah melalui usaha membiasakan cuci tangan dengan larutan klorin sebelum
membantu persalinan, dan merebus semua peralatan setelah membantu persalinan
wanita yang mengalami infeksi post partum.7
Infeksi
pada janin dan bayi yang baru lahir dapat dicegah melalui beberapa cara yaitu:7
- imunisasi maternal (tetanus, rubella, varicella, dan hepatitis B).
- pengobatan antenatal terhadap sifilis, gonorrhea, dan chlamydia maternal.
- penggunaan tetes mata profilaksis secara postnatal untuk menghindari infeksi chlamydia, gonorrhoea, dan candida pada mata (conjunctivitis).
- Pengobatan profilaksis pada wanita hamil yang beresiko terinfeksi penyakit streptococcal golongan B.
- Pengobatan dengan antiretroviral untuk mencegah HIV bagi ibu (antenatal dan intrapartum) dan bayi (postnatal).
6.
Infeksi
jarum infuse
Sebagian
besar infeksi jarum infus nosokomial disebabkan oleh kontaminasi pada kateter
oleh mikrobia yang berasal dari kulit pasien atau tangan petugas kesehatan pada
saat kateter dikenakan pada pasien, dimana kateter berhubungan langsung dengan
aliran darah. Apabila kateter diterapkan pada pasien, patogen dapat ditransfer
ke aliran darah melalui empat cara: (a) dengan cara berpindah tempat di
sepanjang antar muka kateter dan jaringan tubuh, (b) melalui kontaminasi pusat
kateter, (c) melalui kontaminasi cairan infuse, dan (d) melalui aliran darah
dari lokasi infeksi yang berbeda.7,9
Bakteri
gram negatif dan stafilokokki adalah penyebab utama infeksi jarum infus,
disamping itu juga tejadi infeksi jamur. Beberapa mikrobia, khususnya Staphylococcus aureus negatif koagulase
dan spesies dari golongan Pseudomonas
dan Acinetobacter, melekat pada biofilm
fibrin yang terbentuk pada dinding bagian dalam kateter sehari setelah infeksi.7,9
Lapisan
biofilm ini memberi perlindungan bagi mikrobia patogen terhadap aktivitas
senyawa antimikrobia. Mikrobia pada biofilm tumbuh secara lambat, sehingga
antimikrobia yang umumnya bekerja apabila mikrobia tumbuh dengan cepat menjadi
tidak efektif. Agar senyawa antimikrobia dapat berfungsi dengan baik, kateter
dan perangkat infus lainnya harus dilepas terlebih dahulu dari penderita.3
RESIKO INFEKSI UNTUK PETUGAS KESEHATAN
Kesehatan petugas kesehatan harus
ditinjau pada saat penerimaan pegawai, termasuk catatan mengenai imunisasi yang
pernah diperoleh, penyakit infeksi yang pernah dialami, dan status kekebalan
tubuh. Imunisasi yang sebaiknya diberikan pada petugas kesehatan adalah
imunisasi hepatitis A dan B, influenza, campak, penyakit gondok, rubella,
tetanus, dan dipteria. Uji Mantoux dapat menentukan adanya infeksi tuberkulosis
yang pernah dialami.2
Petugas kesehatan bisa mendapat
infeksi karena masuknya mikroorganisme melalui kulit, mukosa, terutama yang
tidak utuh.1
1.
Kulit
Beberapa
bakteri juga dapat menembus kulit yang utuh. Namun mikrobia lebih mudah
memasuki tubuh lewat kulit tidak utuh yang merupakan pintu masuk
mikroorganisme. Karena itu petugas harus memakai sarung tangan saat bekerja dan
bila mempunyai kelainan kulit, sebaiknya tidak bekerja di tempat di mana
kemungkinan bisa terjadi ekspos dengan darah atau ekskreta penderita.1
Tubuh
bisa dimasuki mikroorganisme akibat kecelakaan kerja, misalnya terjadi luka
akibat terkena benda tajam atau tertusuk jarum. Karena itu petugas kesehatan
harus menjaga agar tidak terluka atau tertusuk jarum pada saat bekerja.1
Mikroorganisme
yang bisa menulari lewat pencernaan, darah atau duh tubuh, antara lain HIV,
virus Hepatitis B, virus hepatitis non-A, non B, CMV, Neisseria meningitides, Triponema
pallidum, adenovirus.
2.
Mukosa
Mikrobia bisa memasuki tubuh petugas
lewat mukosa saluran nafas atau mukosa saluran cerna. Oleh karena itu petugas
harus memakai masker bila bekerja di tempat di mana ada kemungkinan penularan
lewat udara. Makan, minum, atau berdandan merupakan hal tabu untuk dikerjakan
oleh petugas kesehatan di tempat perawatan, kamar tindakan, atau di
laboratorium klinik.1
a.
Infeksi
melalui mukosa saluran pernafasan
Mikrobia yang bisa
ditularkan melalui saluran pernapasan antara lain adalah RSV, Virus influenza,
Virus varicella, virus rubiola (morbili), virus rubella, Bordetella pertussis, Mycobacterium
tuberculosis, dan lain-lain bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan.1
b.
Infeksi
melalui mukosa mata
Dari percikan duh tubuh
atau darah pada mukosa mata petugas bisa mendapat penularan beberapa virus,
antara lain virus hepatitis B dan HIV, dan bakteri-bakteri terutama bakteri
penyebab penyakit menular seksual, misalnya Neisseria
gonorrhoae, dan Chlamydia trachomatis.1
DAFTAR
PUSTAKA
- Madjid B, Massi MN. Mikrobiologi Kedokteran untuk Paramedik. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin: Makassar. 2007
- WHO. Prevention of hospital acquired infections: a practical Guide. WHO: Geneva. 2002
- Inglis TJJ. Microbiology and Infection. 2nd ed. Ediburgh :Elsevier Science Limited. 2003. pp 183 – 180
- Slack RCB. Hospital Infection.In: Medical Microbiology [Greenwood D, Slack RCB, Peutherer JF eds]. 16th ed. London: Elsevier Limited. 2002. p662-669
- Weinstein RA. Nosocomial Infection Update. Diakses 6 Februari 2007. http://www.cdc.gov/ncidod/eid/vol4no3/weinstein.htm .2007.
- Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology. 22nd ed. Calcutta: McGrawHill Education
- Tietjen L, Bossemeyer D, McIntosh N. Infection Prevention Guidelines for Healthcare Facilities with Limited Resources. Maryland: JHPIEGO
- WHO. Practical Guidelines for Infection Control in Healthcare Facilities. Geneva: WHO. 2004.
- Ryan KJ, Ray CG. Sherris Medical Microbiology: An Introduction to Infectious Diseases. 4th ed. New York: McGrawHill. 2004. P 915-921
- Clarke SC. Modern Medical Microbiology: The fundamentals. London: Arnold 2004.p 145
STERILISASI DAN DESINFEKSI
Pengendalian Mikroorganisme Dengan Bahan Kimia
Banyak
zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme berkisar dariunsur logamberat seperti perak dan tembaga sampai kepada molekul organik
yang kompleks seperti persenyawaan amonium kuaterner. Brbagai substansi tersebut menunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan
terhadap berbagai macam mikroorganisme.
Ciri
Ciri desinfektan yang ideal
1.
Aktivitas antimikrobial . Persyaratan yang pertama ialah
kemampuan substansi untukmematikan mikroorganisme. Pada Konsentrasi rendah zat
tersebut harus mempunyai aktivitas antimikrobial dengan spektrum luas, artinya harus dapat
mematikan berbagai macam mikroba
2.
Kelarutan ; Substansi itu harus dapat larut dalam air
atau pelarut pelarut lain sampai pada taraf
yang diperlukan untuk dapat digunakan secara efektif
3.
Stabilitas ; Perubahan yan terjadi pada substansi itu
bila dibiarkan beberapa lama harus seminimal mungkin dan tidak boleh mengakibatkan kehilangan sifat anyimikrobialnya
dengan nyata.
4.
Tidak bersifat racun
bagi manusia maupun hewan lain. Idealnya persenyawaan itu bersifat letal bagi mikroorganisme dan
tidak bagi manusia maupun hewan lain
5.
Keserbasamaan ( homogeneity). Di dalam penyiapannya,
komposisinya harus seragam sehingga bahan aktifnya selalu terdapat pada setiap
aplikasi.
6.
Tidak bergabung dengan bahan organik. Banyak desinfektan
bergabung dengan protein atau bahan organik lain. Apabila desinfektan semacam
itu digunakan di dalam keadaan yang banyak mengandung bahan organik, maka
sebagian besardari deinfektan itu akan menjadi aktif
7.
Aktivitas bahan antimikrobial pada suhu kamar atau suhu
tubuh.
8.
Kemampuan untuk menembus . Kecuali bila substansi itu
dapat menembus permukaan, maka aksi anti mikrobialnya hanya terbatas pada situs
aplikasinya saja
9.
Tidak menimbulkan karat dan warna;
10.
Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap.
11.
Berkemampuan sebagai detergen .
12.
Ketersediaan dan biaya
Kelompok Kelompok
utama bahan antimikrobial kimia :
- Fenol dan persenyawan fenolat
- Alkohol
- Halogen
- Logam berat dan persenyawaanya
- Detergen
- Aldehid
- Kemosterilisator gas
Fenol dan
Persenyawaan fenolat
Fenol ( asam karboksilat), yang pertama kali
digunakan oleh Lister sekitar 1860-an di
dalam pekerjaanya untuk mengembangkan
teknik teknik pembedahan aseptik, telah lama
merupakan standar pembanding bagi
desinfektan lain untuk mengevaluasi
aktivitas bakterisidalnya.
Senyawa fenol
(kresol bekerja terutama dengan
cara mendenaturasi protein sel dan
merusak membran sel. Persnyawaan fenolat
dapat bersifat bakterisidal atau
bakteriostatik bergantung kepada
konsentrasi yang digunakan. Spora bakteri dan virus lebih resisten terhadap persenyawaannya dibandingkan sel
vegetatif bakteri.
Turunan fenol
berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan
hidrogen. Turunan fenol mem[punyai efek antiseptik, anthelmintik, anestetik,
keratolitik, kaustik dan bekerja dengan mengedepankan protein sel bakteri.
Peningkatan sifat lipofil turunan fenol
akan meningkatkan aktivitas antiseptiknya.
Pemasukan gugus halogen, seperti klorin
dan bromin, ke inti fenol akan meningkatkan aktivitas antiseptiknya. Aktivitas
ini lebih meningkat bila jumlah halogen
yang dimasukkan bertambah.
Pemasukan gugus nitro dapat
meningkatkan antiseptik sampai drajat
yang moderat.
Pemasukan gugus asamkarboksilat dan asam sulfonat menurunkan aktivitas
antiseptik karena dapat meningkatkan kelarutan dalam air dan menurunkan
kelarutan dalam lemak sehingga penembusan
ke membran sel bakteri menurun.
Pemasukan
gugus alkil ke dalam struktur fenol, kresol dan resorsinol dan lain akan
meningkatkan aktivitas bakteri dan
menurunkan toksisitasnnya.
Persenyawan Alkohol
Ø Etil
alkohol dengan konsentrasi 50 – 70% efektif terhadap Mikroorganisme vegetatif
atau yang tdkmembentuk spora.
Ø Metil
alkohol kurang bakterisidal dibandingkan dengan etil alkohol. Senyawa ini sanya
beracun. Alkohol rantai panjang seperti propil
dan butil, amil dll bersifat germisidal
Alkohol merupakan
denaturan protein, suatu sifat yang terutama memberikan aktivitas antimikrobial
pada alkohol. Alkohol juga merupakan pelarut lipid sehingga dapat pula merusak
membran sel.
Halogen
serta persenyawaannya.
Iodium.
Merupakan zat yang sangat efektif
terhadap segala macam bakteri, spora, cendawa dan virus digunakan untuk
desinfeksi kulit. Iodin secara
langsung dapat mengadakan iodinasi
rantai polipeptide protein sel bakteri, mengoksidasi gugus tirosin dan
sulfhidril protein, dan menyebabkan penginaktifan protein enzim tertentu
sehingga bakteri mengalami kematian
Klor dan persenyawaannya. Klor sebagai
gas ataupun ddalam kombinasi kimiawi,
merupakan salah satu desinfektan yang
paling luas penggunaannya. Gas ini
dimamfaatkan dalambentuk cair untuk memurnikan cadangan air.
Klorin dan senyawa terklorinasi (klorofor) akan berubah menjadi asam
hipoklorit ( HOCl ) yang dapat :
a.
Mengikatkan Cl pada bagian protein
b.
Menghasilkan asam hidroklorida dan oksigen nasen yang kemudian mengoksidasi
gugus SH enzim penting tertentu atau konstituen
sel bakteri. Akibatnya protein dan enzim tidak dapat berfungsi secara normal dan bakteri mengalami kematian
Kloramin.
Kloramin dicirikan oleh
digantikannya satuatau lebih atom
hidrogen dalam gugusan amino suatu persenyawaan dengan klor. Salah satu
keuntungan kloramin ialah jauh lebih stabil dari pada hipoklorit. Maksudnya,
persenyawaan tersebut melepaskan klor
dalam waktu waktu relatif lama.
Sifat germisidal
klor dan persenyawaanya terdapat pada asam hipoklorit yang terbentuk bila
klor bebas ditambahkan kedalam air. Asam
hipoklorit yg setiap kali terbentuk mengalami dekomposisi lebih lanjut
Logam berat ( aksi
oligodinamik).
Logam berat mis/ perak dapat mematikan baketri sering disebut aksi oligodinamik
Senyawa Perak
Mekanisme
kerjanya ialahh:
a.
ion perak berinteraksi dengan protein bakteri,
menyebabkan terjadinya presipitasi
protoplasma bakteri sehingga mengalami
kematian
b.
Pemecahan dan
ionisasi perak proteinatum,
menghasilkan ion dengan efek
bakteriostatik ringan dan masa kerja
yang panjang
Ø AgNO3
adalah garam yang mudah larut
dalam air digunakan sebagai antiseptik pada mata bayi yang baru lahir
Ø AgNO3
amoniakal digunakan secara luas dalam kedokteran gigi sebagai antu
bakteri dan pengontrol karies gigi
Ø Perak
proteinatum ringan ( Argyrol), digunakan
untuk pengobatan infeksi pada membran mukosa , mata, saluran nafas dan saluran
seni. Bentuk kompleks koloidal perak
protein ini tidak menimbulkan efek iritasi, korosi dan adsringen seperti yang
ditimbulkan oleh senyawa perak yang mudah larut seperti perak nitrat
Senyawa
Merkuri, Pertama tama membentuk ion
R-Hg+ dan kemudian bereaksi membentuk ikatan kovalen dengan gugus tiol
enzimatik sel
Senyawa
merkuri dibagi dua klp:
1. Merkuri
anorganik, HgCl2, Hg2Cl2, HgO, NH2HgCl
( merkuri amonium klorida)
2. Merkuri
organik, contoh; fenilmerkuri nitrat, merbromin (merkurokrom), nitromersol dan
timerosal.
Merkuri
anorganik bersifat toksik dan
menimbulkan iritasi. Tapi dipakai dalam pengawet industri.
Senyawa merkuri
organik dapat melepaskan ion merkuri secara perlahan lahan sehingga menunjukkan
efek samping yg lebih kecil dibanding senyawa merkuri anorganik.
Contoh :
Ø Fenil
merkuri nitarat, digunakan sebagai pengawet pada sediaan parenteral dengan
kadar 1 : 10.000 – 50.000
Ø Merbromin.
Sebagai antiseptik kulit dan luka kadar 2 %
Ø Nitromersol,
efektif thd kokus Gram Positif. Antisepik kulit dan mata dalam bentuk larutan dgn kadar 1 : 500
Ø Timerosal,
Bakteriostatik. Antiseptik pada luka 1 : 1000, untuk irigasi uretra 1 : 5000,
antiseptik membran mukosa hidung dgn kadar 1 : 2000 dalam bentuk salep (mata )
1 : 5000
Aldehida dan
etilen oksida bekerja dengan mengalkilasi secara langsung gugus
nukleofil seperti gugus-gugus amino, karboksil, hidroksil, fenol dan tiol dari
protein sel bakteri
Reaksi
alkilasi adalah sebagai berikut :
Contoh
:
Ø Formaldehid (formalin)
37% mempunyai antibaketri dgn kerja yg lambat: digunkan untuk desinfektan
ruangan, alat alat, dan baju dgn kadar 1 : 5000. larutan formaldehid dlm air digunakan untukmengeraskan kulit, mencegah keringat yg
berlebihan dan untuk desinfeksi tangan.
Ø Paraformaldehid. Didapat dengan
menguapkan larutan formaldehid.
Ø Glutaral dehid digunakan untuk sterilisasi
larutan atau peralatan pembedahan yg tdk
disterilkan dgn pemanasan
(H-CHO)n OHC-CH2CH2CH2-CHO
Formaldehid glutaraldehid
Senyawa
Pengoksidasi :
- Hidrogen Peroksida (H2O2). Sebagai antimikroba, Oleh kerja enzim katalase, hidrogen peroksida mengalami peruraian melepaskan oksigen, yg aktif sebagai pencuci. Digunakan dalam mencuci luka dan penghilang bau badan dengan kadar 1 – 3 %
- Benzoil peroksida ( C6H5-COOOC-C6H5) dalam air melepaskan Hid. Peroksida dan asam benzoat sebgai antiseptik dan keratolitik ( Dalam lotion 5 – 10 %)
- Karbamid peroksida ( Urea peroksida) (NH2)2COH2O2 mengandung 34% H2O2 atau 16% O2. Dalam air melepaskan H2O2 dan digunkan untuk antiseptik pada telinga dan luka
- KMnO4 dan dan Sodium perborat digunakan sebagai desinfektan dan antiseptik krn sifat oksidasinya
Detergen:
- Detergen anionik, yatiu: detergen yang berionisasi dan sifat detergennya terletak pada anion contoh:
[C9H19COO]-Na+ [C12H25OSO3]-Na+
Sabun Na
Lauril sulfat
Nilai sabun yang
sesungguhnya terletak pada kemampuannya
menghilangkan Mo secara mekanis. Dapat mengurangi teganganpermukaan sehingga
meningkatkan sifat pembasah air yang didalamnya terlarut sabun. Air
bersabun dapat mengemulsikan dan
menghilangkan minyak dan kotoran. MO
menjdi terperangkap di dalam busa sabun
dan hilang setelah dibilas dengan air.
- Detergen kationik, detergen yang berionisasi dan sifat detergennya terletak pada kation
J A M U
R
Eukariota,
beda dari tumbuhan & hewan
v Dinding sel
rigid dan bukan selulosa tetapi kitin dan glukan.Heterotropik, tidak memiliki
klorofil, tidak dapat mengolah makanan
sendiri Dalam kaitan ini mampumenyebabkan kerusakan antara lain menyebabkan penyakit pada manusia/makhluk
hidup lain
v Strukturnya
sederhana, tidak ada
Pembagian
organ atau jaringan Terdiri atas bangunan seperti filamen yang disebut HIFA
atau sel independen yaitu SPORAÃ elemen jamur
v Struktur
yang sederhana tersebut dapat berubah- rubah sesuai keperluan, hal itu penting
dalam perannya sebagai penyebab penyakit
v Jamur tumbuh
bebas di alam
v Pada umumnya
tidak patogen
v Jamur
patogen juga ditemukan tumbuh bebas di alam dan alam bertindak sebagai sumber
penularan
v Jamur juga
dapat tumbuh di dalam tubuh manusia tanpa menyebabkan kelainan
v Hidup
sebagai bagian ‘flora’ normal di dalam tubuh manusia
v Hidup dalam
keseimbangan ekologis dengan mikroorganisme lain, hal itu berperan dalam
mencegah timbulnya penyakit.
JENIS
JAMUR
n Golongan
kapang (filamentous fungi)
n Golongan
khamir/ragi (yeast/yeast like fungi).
n Jamur
dimorfik
Golongan
Kapang
n Dermatofita:
penyebab kelainan kulit
n Aspergillus: penyebab
aspergilosis
n Rhyzopus: penyebab zigomikosis
Pada
jaringan tubuh manusia ditemukan sebagai elemen jamur berupa hifa sejati,
“tabung”/filamen bersekat, atau Hifa senositik yaitu hifa sejati yang berbentuk
seperti pita lebar tanpa sekat.Dapat menyebabkan penyakit dan memerlukan faktor
resiko
Sebagian kontaminan yang sering ditemukan di
laboratorium, hingga interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium harus
dilakukan dengan sangat hati-hati.
GOLONGAN KHAMIR /RAGI
n Candida spp.
penyebab kandidosis
n Cr.
neoformans penyebab kriptokokosis
n Malassezia: penyebab
panu
Þ
Dalam tubuh manusia ditemukan berupa hifa semu atau
hifa tanpa sekat dan atau Sel ragi dengan atau tanpa tunas
Þ
Sebagian hidup sebagai komensal
tanpa menyebabkan kelainan.
Þ
Contoh: Candida sebagai saprofit pada saluran
napas bagian atas dan saluran cerna manusia.
Þ
Sebagai komensal tidak
menyebabkan penyakit, diperlukan faktor resiko untuk menimbulkan mikosis.
JAMUR DIMORFIK
Þ
H. capsulatum: penyebab histoplasmosis
Þ
Penicillium marnefei: penyebab
penisilliosis
Þ
S. schenkii: penyebab sporotrikosis
Þ
Dalam tubuh manusia (37°C) hidup sebagai khamir atau
sel ragi namun Diluar tubuh manusia hidup sebagai jamur yang membentuk koloni
filamen
Þ
Biasanya merupakan jamur patogen sejati yang akan
menyebabkan penyakit bila memasuki tubuh manusia.
Þ
Sifat dimorfiknya merupakan
petanda fenotip penting yang dapat
digunakan dalam diagnostik
DIALAM :
Ø Keberadaan jamur di alam merupakan hasil interaksi
antara jamur dan lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupannya.
Ø Jamur di
alam menjadi sumber penularan bagi makhluk hidup lain
Ø Kotoran burung merpati merupakan habitat alamiah Cr.
neoformans
Ø Pohon T. catappa, E. camaldulensis merupakan
habitat alamiah Cr. gattii
Ø Kotoran ayam dan burung (starling) dan tanah
yang tercemar merupakan habitat alamiah H. capsulatum
VIRULENSI
•
Umumnya virulensi rendah
•
Untuk menyebabkan penyakit harus mampu tumbuh pada
suhu 37°C
•
Mengatasi sistim kekebalan hospes
•
Faktor virulens berbeda untuk tiap jamur: enzim,
melanin, komponen dinding sel.
TERJADINYA INFEKSI
n Infeksi
jamur terjadi bila jamur mampu mengatasi sistim kekebalan hospes; gangguan pada
sistim kekebalan à faktor
resiko
n Kondisi
tertentu yang menyebabkan jamur mampu tumbuh dan berkembang biak dalam tubuh
makhluk hidup dan menyebabkan penyakit à faktor
resiko
n hilangnya keseimbangan ekologi merupakan faktor
resiko yang memudahkan terjadinya infeksi.
FAKTOR
RESIKO
pengobatan
: pemberian sitostatika, pemberian kortikosteroid,
MIKOSIS
Þ
Faktor resiko memudahkan
timbulnya infeksi jamur atau mikosis
Þ
Mikosis:
·
Superfisialis: mengenai
kulit & mukosa
·
Profunda:
kulit s/d jaringan sub kutan
·
Sistemik: mengenai alat
dalam.
Mikosis pada HIV-AIDS
MIKOTOKSIN
Adalah segolongan metabolites, dihasilkan jamur
(cendawan) yg ditumbuhkan pada makanan.
Makanan makanan hewan atau bahan bahan mentah untuk pabrik mereka yg mana menjadi toksik kepada manusia & hewan2
peliharaan mereka adalah toksik bagi hewan
& manusia sangat beragam dalam senyawa.
Ø
Gejala - Gejala (Simptomatis)
Tidak ada tanda/gejala tunggal, tetapi sejumlah
simpton karakteristik. Contoh mitotoksin
yg menyebabkan :
Ø
kerusakan hati = hepatitic
damage = Hepatotoksik
Ø
kerusakan ginjal = Nephrotoksik
Ø
Corcinogenic
Ø
Neuroroksik = kegiatan
menentang urat syaraf
Ø Sitotoksik umum & menimbulkan haemorrhagi
Ø Kegiatan
humoralminic (ostragenic) Oestragenic
Oesions
Cendawan
yg Memproduksi Mikotoksin
Banyak
genera yg berbeda, tetapi 3 yg terbesar & penting : Penicillium, Aspergillus,
Fusarium.Bermacam-macam rentang (range) tipe2 kimia. Banyak diakibatkan dengan asal usul/asal mula/ sumber sumber biosistetis
mereka. Semua mikotoksin adalah merupakan
contoh hasil metabolit sekunder yg menonjol selama pertumbuhan fase stationer.
Kebanyakan : Poliketide, Mevalonate, dan derivate asam asam amino.
Mikotoksikosis
Ø Penyakit yg
diakibatkan oleh racun/toksin yg dikeluarkan oleh cendawan
Ø Tidak semuanya mampu menghasilkan toksin
Ø Dibutuhkan
kondisi tertentu untuk menghasilkan toksin
Ø Tidak
diperolehnya cendawan penghasil toksin dalam pakan tersangka tidak berarti
pakan tsb tidak mengandung mikotoksin
Ø Kebanyakan
mikotoksin tahan terhadap panas & toksisitas tidak berkurang selama proses
pembuatan pakan & pengalengan produk.
Aflatoksikosis
Ø Aflatoksin
B1, B2, G1, dan G2
Ø
flavus dan A. parasiticus
Ø
Jagung, kacang kedelai, biji kapas, kacang, dan
jenis kacang lainnya
Ø Kelembaban
di atas 5%, suhu yg mendekati 20-25oC dan adanya aerasi
Ø Terjadi
ketidakutuhan biji, bisa disebabkan oleh serangga di luar gudang
Efek yg Ditimbulkan
Ø Terhambatnya pembentukan protein
Ø Kegagalan fungsi hati
Ø Karsinogenesis
Ø Penekanan terhadap kebal
Pengawasan dan Deteksi
Ø Aktivitas
hulunya
Ø Pengeringan cepat hingga kelembaban kurang dari 14%
Ø Bahan2 pengawet seperti propionat dapat mencegah
pertumbuhan cendawan penghasil toksin
Ø Amoniasi pada bahan2 yg telah diduga mengandung
aflatoksin dapat menghilangkan daya toksin dari aflatoksin.
Ø Penyimpanan hendaknya menggunakan tempat yg layak
& mampu menghambat pertumbuhan cendawan penghasil aflatoksin.
Okratoksikosis
Ø Derivat dari isocoumarin
Ø ochraceus dan P. viridicatum
Ø Tanaman kacangan, sagu, gandum, jagung, biji kopi
dan cabe.
Daya
dan Target Kerja
Ø Ginjal
Ø Menyebabkan kematian sel sel ginjal
nechritis
Ø
Tanda tanda keracunan :
polydipsi, polyuria
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar