Minggu, 21 Juni 2009

IMUNOLOGI
















GOLONGAN DARAH

Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel-sel (eritrosit, lekosit, dan trombosit) dan cairan (plasma/serum). Di dalam serum terdapat dua antibody alamiah dan pada permukaan eritrosit terdapat dua jenis antigen, seseorang dapat membentuk salah satu atau kedua antibody itu atau sama sekali tiadak membentuknya. Demikian pula halnya dengan antigennya. Dua antibody itu adalah anti-A dan anti-B sedangkan dua antigen itu adalah antigen-A dan antigen-B. Berdasarkan sifat kimianya antigen-A dan –B merupakan mukopolisakarida, terdiri dari protein dan gula. Dalam dua antigen itu bagian proteinnya sama, tetapi bagian gulanya merupakan dasar kekhasan antigen-antibodi. Golongan darah seseorang ditentukan oleh macamnya antigen yang dibentuknya.

Golongan Darah

Antigen pada eritrosit

Antibodi dalam serum

A

A

Anti-B

B

B

Anti-A

AB

A dan B

-

O

-

Anti-A dan anti-B

Tabel 1 golongan darah

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa orang yang memiliki antigen-A tidak memiliki anti-A, melainkan anti-B. Orang yang memiliki antigen-B, memiliki anti-A. Orang yang tidak memiliki antigen-A maupun antigen-B dalam eritrositnya dinyatakan bergolongan darah O dan serum darahnya mengandung anti-A dan anti-B. Sebaliknya, bila serum darah tidak mengandung antibody sama sekali, maka eritrositnya mengandung antigen-A dan antigen-B. Orang demikian dinyatakan termasuk golongan AB.

Golongan Darah (Delta Diagnostik)

“Tes golongan Darah metode Tabung, slide dan miroplate”

Prinsip

Prosedur tes berdasarkan atas prinsip aglutinasi. Antigen pada sel darah merah akan teraglutinasi ketika dites dengan antibody yang cocok.

Isi Kit

Ø Anti-A diwarnai dengan Acid Blue (Patent blue) dye

Ø Anti-B diwarnai dengan Acid Yellow (tatrazine)

Ø Anti-A,B tidak diwarnai

Spesimen

Darah dengan atau tanpa antikoagulan

Prosedur

A. Tes Tabung

    1. Siapkan suspensi sel darah merah 2-3% dalam buffer saline Isotonik (pH 6.0)
    2. Letakkan kedalam tabung gelas :

- 1 volume reagen

- 1 volume suspensi sel

    1. Campur dengan baik dan inkubasi pad suhu ruangan (18-25oC) selama 5-15 menit.
    2. Sentrifus 900-1000 rcf selama 15 detik
    3. Suspensi kembali dasar sel dengan lembut dan periksa adanya aglutinasi dengan menggunakan mikroskop. Catat hasil

B. Tes Slide

    1. Letakkan keatas slide gelas pada suhu ruangan (18-25oC) :

1 volume reagen

1 volume suspensi sel 35-45% kedalam grup masing-masing (anti-A, anti-B, anti-AB)

    1. Campur dengan baik dengan menggunakan batang pengaduk sampai semua area petakan tertutupi
    2. Miringkan slide pulang balik dengan pelan-pelan dan perhatikan adanya aglutinasi dalam waktu 2 menit. Catat hasil

C. Tes Mikroplate

    1. Siapkan suspensi sel 2-3% dalam larutan buffer saline isotonic.
    2. Letakkan kedalam mikroplate dengan dasar “U” :

1 volume (30-50 ul) reagen

1 volume (30-50 ul) suspensi sel

    1. Campur dengan baik, lebih baik dengan penggoyang mikroplate, jaga dari kontaminasi antar “well”
    2. Sentrifus mikroplate pada 140 rcf selama 1 menit
    3. Miringkan plate dengan sudut 60-90o dari atas meja kerja dan amati aliran sampai batas 3 menit

Hasil :

Negatif : Sel mengalir kebawah dengan aliran yang seragam

Positif : Sel menetap seperti kancing begitu juga didasar Sumur atau kadang-kadang meluncur sampai Ke bawah

TES KEHAMILAN (PREGNANCY TEST)

Satu hal yang tidak bias lepas dari proses kehamilan adalah perubahan hormon yang menyebabkan berbagai perubahan organ dan system tubuh seorang ibu hamil. Hormon itu sendiri merupakan aneka substansi kimia yang dilepaskan kealiran darah untuk merespons suatu rangsangan dan mengaktifkan sel, sesuai dengan hormon yang dibutuhkan dan membutuhkannya.

Fertilisasi terjadi pada hari-hari setelah ovulasi yang merupakan titik tengah daur haid. Telur yang telah mengalami proses pembuahan mengapung kearah tuba fallopi dan masuk kedalam uterus dimana ovum menanam diri pada endometrium sekretorik yang telah siap. Segera setelah implantasi pada hari ke-21 hingga hari ke-23 dari siklus, dimulai produksi gonadotropin korionik (chorionic gonadotrpin,CG).

Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah hormon khas kehamilan (ditemukan dalam darah dan urine perempuan hamil). Hormon yang dibentuk oleh trofoblast (lapisan bagian luar janin yang terbentuk pada awal pembentukan janin dan plasenta) ini berfungsi mempertahankan korpus luteum (jaringan berwarna kuning dalam indung telur yang terbentuk ketika indung telur baru saja melepaskan sel telur) yang membuat eksogen dan progesterone sampai plasenta terbentuk seutuhnya.

Molekul HCG bersifat dimerik, terdiri dari satu sub unit alfa dan satu sub unit beta, yang khas untuk HCG dan menentukan individualitas antigenik.

Metode Pemeriksaan : Aglutinasi

Bahan Pemeriksaan : Urine Segar

Alat dan Reagen :

1. Alat :

a. Kaca Objek

b. Pipet

c. Pengaduk

2. Reagen

a. Metode aglutinasi Langsung : Antigen HCG

b. Metode agkutinasi tak langsung :

- Antigen HCG yang dilekatkan Pada Lateks

- Anti HCG

Prosedur Pemeriksaan :

1. Metode Aglutinasi Langsung

a. Teteskan setetes urin diatas pernukaan kaca objek

b. Teteskan setetes reagen antigen HCG

c. Aduk dengan batang pengaduk sampai merata.

d. Goyangkan kaca objek dengan gerakan memutar

e. Amati terbentuknya gumpalan dalamwaktu yang tidak me

lebihi 3 menit.

2. Metode aglutinasi tidak langsung

a. Teteskan setetes urine pada permukaaan gelas permukaan

b. Berturut-turut teteskan 1 tetes anti B HCG antibody dan 1

tetes antigen HCG yang dilekatkan pada lateks

c. Aduk dengan batang pengaduk sampai merata

d. Goyangkan permukaan gelas dengan gerakan memutar

e. Amati adanya gumpalan yang terjadi dalam waktu yang tidak

melebihi 3 menit.

Interpretasi hasil :

1. Metode Aglutinasi Langsung

Positif : Ada gumpalan/aglutinasi

Negati : Tidak ada gumpalan/aglutinasi

2. Metode Aglutinasi tidak langsung

Positif : Tidak terjadi gumpalan/aglutinasi

Negatif : terjadi gumpalan/aglutinasi

ANTISTREPTOLISIN-O (ASO)

Suatu ifeksi oleh β-hemolitic Streptococcus grup A akan merangsang beberapa sel imunokompeten untun memproduksi beberpea antibody, baik terhadap beberapa produk ekstraseluler dari kuman (streptolisin,Hialuronidase,*9 streptokinase, DNAse) maupun terhadap komponen permukaan dari dinding sel kuman (cell surface membrane antigen = CSMA). Antibodi terhadap CSMA inilah yang diduga menyebabkan terjadinya kelainan pada jantung (endokardium) penderita demam rematik atau pada ginjal penderita glomerulonefritis.

Kelainan terhadap beberapa organ tersebut disebabkan oleh karena reaksi silang antar antibody terhadap CSMA dengan endokardium atau Glomerular Basement Membrane(GBM) atau menimbulkan pembentukan kompleks imun Ab-CSMA yang diendapkan pada glomerulus atau endokardium dan menyebabkan beberapa kerusakan pada beberapa bagian tubuh tersebut. Sebagian besar dari beberapa bagian strain serologis dari streptococci grup A mengahasilkan dua enzim hemolitik yaitu, Streptolisin-O dan S. Didalam tubuh penderita Streptolisin-O akan merangsang pembentukan antibody yang spesifik, yaitu Streptolisin-O (ASO) sedangkan antibody yang dibentuk terhadap streptolisin-S tidak spesifik.

Adanya antibody yang spesifik terhadap streptolisin-O ini kemudian dipakai sebagai ASO biasanya mulai meningkat 1-4 minggu setelah terjadinya infeksi. Bila infeksi kemudian mereda, maka titer ASO akan kembali normal setelah sekitar 6 bulan. Bila titer tidak menurun, suatu infeksi ulangan mungkin terjadi.

Pemeriksaan :

Anti-Streptolisin O (ASTO) /AS Direct Latex

“Tes untuk menentukan anti-SLO dalam serum secara in vitro”

Prinsip

Reagen AS Direct Latex adalah sebuah suspensi Partikel Lateks Polystirene yang telah disensitisasi dengan Streptolisin-O. Ketika reagen dicapur dengan serum yang mengandung Antibodi anti-SLO, terjadi sebuah reaksi Ag-Ab yang dapat dilihat secara visual karena timbulnya aglutinasi.

Isi Kit

LR Suspensi Partikel lateks polistirene yang diikatkan dengan SLO dalam buffer penstabil

PC Kumpulan serum Manusia yang mempunyai titer lebih tinggi dari 200 IU/ml

NC Kumpulan serum manusia yang mempunyai titer lebih rendah dari 200 IU/ml

Sampel

Serum segar atau dapat disimpan pada suhu 2-8oC jangan lewat dari 48 jam.

Prosedur

A. Kualitatif

  1. Bawa reagen dan sampel kesuhu ruangan
  2. Letakkan 40 uL serum yang tidak diencerkan keatas area hitam pada slide
  3. Campur dengan baik LR dan tambahkan 1 teteskeatas tetesa serum
  4. Campur dengan batang pengaduk kedua tetesan tersebut diatas dan miring-miringkan slide
  5. Perhatikan ada tidaknya aglutinasi dalam waktu tidak lebih dari 3 menit.

Interpretasi Hasil

Aglutinasi pada lateks berarti bahwa titer anti-SLO sama atau lebih tinggi dari 200 IU/mL

B. Semikuantitatif

Siapkan seri penegenceran kelipata dua dengan NaCl 0,9% dan kemudian lakukan setiap penegenceran sampel sama seperti serum yang tidak diencerkan (kualitatif). Titer anti-SLO dalam sampel serum kurang lebih bisa dihitung dengan menggunakan rumus :

AS titer IU/mL = Penegenceran tertinggi yang masih positif X Sensitivitas reagen (200 IU/mL)

Nilai Normal

Sampai dengan 200 IU/mL


FAKTOR REMATOID

Antigen X yang masuk kedalam sendi akan diproses oleh beberapa sel immunokompeten dari sinovia sendi sehingga merangsang pembentukan antibody terhadap antigen tersebut. Antibodi yang dibentuk dalam beberepa sendi ini terutama adalah dari kelas IgG walaupun kelas antibody yang lain juga terbentuk. Pada beberapa penderita dengan arthritis rheumatoid, secara genetic didapatkan adanya kelainan dari sel limposit T-supresornya sehingga tidak dapat menekan sel limposit T-helper dengan akibat timbulnya rangsangan berlebihan pada sel plasma sehingga terjadi pembentukan antibody yang berlebihan pula. Dalam jangka waktu yang lama hal ini dapat menyebabkan gangguan glikosilasi IgG sehingga terbentuk IgG yang abnormal, dan menimbulkan pembentukan oto antibody yang dikenal sebagai factor rematoid (IgG,IgA,IgE, dan IgM anti-IgG). IgG yang abnormal tersebut akan difagositosis oleh magrofag atau APC yang lain. Di dalam APC, IgG tersebut akan dproses namun pada orang normal tidak menimbulkan respons imun sebab bahan yang berasal dari tubuh sendiri tidak dapat membangkitkan molekul konstimulatoris B7 pada permukaan APC sehingga tak dapat terikat pada molekul konstimulatoris CD28. Pada penderita RA, oleh karena HLA-nya, terjadi peningkatan kadar molekul B7-1 dan B7-2, sehingga dapat mengikat molekul CD28, dan menimbulkan respons imun CD4 Th2 yang menghasilkan otoantibodi, yaitu IgG atau factor rheumatoid. Umunya FR baru terbentuk setelah panderita menderita penyakit lebih dari 6 bulan, tetapi dapt pule terjadi lebih awal atau sesudah waktu yang lama. Dalam tahap selanjutnya antibody tersebut (terutama IgG) akan mengadakan ikatan dengan antigen X dalam bentuk kompleks IgG-antigen X atau dengan IgG sendiri dalam bentuk kompleks IgG-IgG. Kompleks imun yang terjadi akan mengaktifkan komplemen , dan menimbulkan kemotaksin yang menarik lekosit PMN ketempat proses. PMN ini akan mengadakan fagositosis kompleks imun tersebut, dan mengalami kerusakan atau mati dengan akibat pengeluaran enzim lysosin yang dapat merusak tulang rawan sendi.

Pengendapan kompleks imun yang disertai komplemen pada dinding sendi juga dapat menyebabkan kerusakan sendi. Beberapa peneliti melaporkan bahwa jaringan sinovia sendi (sel dendritik abnormal) yang mengalami arthritis rematoid mengeluarkan enzim collagenase dalam jumalah yang cukup banyak sehingga dapat menyebabkan tulang rawan sendi yang tak dapat pulih lagi (irreversible).

Reumatoid Factor (Humaterx RF)

Tes Slide Aglutinasi Lateks untuk menentukan FR dalam serum yang tidak diencerkan secara kualitatif dan semi kuantitatif.

Metode

Tes Humatex RF berdasarkan atas reaksi aglutinasi antara FR pada pasien atau serum kontrol dengan IgG manusia yang dilekatkan pada partikel lateks polistyrene.

Reaksi positif ditunjukkan dengan adanya aglutinasi partikel lateks pada petak-petak slide yang dapat dilihat dengan jelas.

Isi Kit

LR 40 atau 100 ml Reagen Lateks RF (tutup putih)

Suspensi partikel lateks Polistirene putih yang diikatklan pada IgG manusia 1.0%

PC 0.5 ml atau 1,0 ml serum kontrol positif (tutup merah).

Serum kontrol dari domba, siap pakai, menghasilkan aglutinasi anti-human IgG yang jelas

NC 1,0 ml Serum kontrol negatif (tutup hijau)

Siap pakai, Tidak reaktif terhadap LR

GBS 100 ml Glicyne-NaCl Buffer pH 8,2 ± 0,2

Glisine 100 mmol/l

NaCl 1 g/l

Slide dengan 6 petak

LR, PC, NC & GBS mengandung 0,095% Na.Azide

Spesimen

Serum, Stabil 24 jam suhu 2-8oC, 4 minggu suhu -20 oC

Prosedur

  1. Kualitatif (tes Penyaring)

Bawa LR, PC, NC & GBS dan sampel serum kesuhu ruangan, campur LR dengan hati-hati

Pipet kedalam petak-petak pada slide :

Sampel serum 40 ul

PC 1 tetes

NC 1 tetes

LR , Keatas sampel dan kontrol masing-masing 1 tetes

Campur dengan batang pengaduk dan lebarkan cairan keseluruh area dari petakan

Miringkan slide pulang balik selama 2 menit atau di rotator 100 rpm

Setelah 2 menit baca hasil dibawah sinar terang

Interpretasi Hasil

Aglutinasi yang tampak menunjukkan RF yang terkandung lebih dari 20 IU/ml dalam serum spesimen yang tidak diencerkan.

Cat : 1 tetes = 40 ul

B. Tes Semikuantitatif

Encerkan spesimen dengan GBS :

Dilution Nilai RF(IU/ml)

1+1 1:2 24

1+3 1:4 48

1+7 1:8 96

1+15 1:16 192

1+31 1:32 384

Kemudian lanjutkan tes seperti pada bagian A

Interpretasi Hasil

Pengenceran terakhir yang masih positif aglutinasi dikalikann dengan factor konversi 12. Mis : titer 1:16 = 16 x 12 (IU/ml) = 192 (IU/ml)

Cat: Sensitivitas Produk ini adalah 12 IU/ml ketika sampel diencerkan.


HEPATITIS

Hepatitis B surface Antigen (HbsAg)

Hepatitis adalah suatu proses peradangan pada jaringan hati yang memberikan gejala lemah badan, kencing seperti air teh disusul dengan mata dan badan menjadi kuning. Tidak semua penyakit hepatitis mempunyai bentuk yang klasik seperti ini. Ada hepatitis yang tidak nyata (inapparent hepatitis), ada yang tanpa ikterik, ada yang bentuk jinak (benigna) dan adan yang ganas (fulminan). Salah satu penyebab hepatitis adalah virus.

Penularan virus hepatitis B (VHB) terjadi melalui dua pola, yaitu pola vertikal dan pola horizontal. Pda pola vertical infeksi terjadi pada ibu hamil dengan HBsAg positif pada anak yang dilahirkannya pad saat persalinan (penularan perinatal). Sedangkan pada pola horizontal infeksi VHB dapa melalui luka atau selaput lender, mis: suntikan, tattoo dll.

Setelah VHB masuk kedalam tubuh penderita yang tidak memiliki kekebalan terhadap VHB. Poly-human serum albumin reseptor (poly PAR) yang terdapat pada permukaan HBsAg akan mengikat poly-human serum albumin (poly-HSA) yang dibuat oeh hepatosit. Dalam tahap selanjutnya poly-HAS yang sudah diikat oleh PAR dari VHB pada satu kutubnya akan diikat oleh PAR yang terdapat pada permukaan hepatosit pada kutubnya yang lain. Setelah itu VHB masuk kedalam siklus dari hepatosit.

Bila ada sel limposit T CD8 yang lewat, maka kompleks antigen-MHC kelas I akan ditangkap oleh reseptor yang da dipermukaan limposit TCD8 dan menimbulkan signal pada sel limposit tersebut sehingga sel tersebut menjadi aktif, dan melepaskan sitokin yang dapat menghancurkan seluruh sel yang terinfeksi beserta isinya. Bebrapa sel hepatosit yang rusak tersebut melepaskan enzimnya sehingga kadar SGOT, SGPT, bilirubin dan gamma-GT dalam serum meningkat.

Waktu inkubasi VHB terentang antara 6 minggu samapai 6 bulan. HBsAg biasanya positif selama beberapa gejala klinis dari penyakit masih ada dan baru menghilang beberapa minggu (1-12 minggu) kemudian. HBsAg yang menetap lebih dari 6 bulan merupakan petunjuk dari infeksi VHB yang menahun atau penderita akan mengidap VHB (carrier) yang sehat.

Tes HBsAg (rapid test)

Prinsip Pemeriksaan :

Imunokromatografi dengan prinsip serum/plasma yang

diteteskan pada bantalan sample bereaksi dengan partikel

yang telah dilapis dengan anti HBs (antibody). Campuran ini

selanjutnya akan bergerak sepanjang strip membrane untuk

berikatan dengan antibody spesifik pada daerah tes (T),

sehingga akan menghasilkan garis warna.

Alat dan Bahan : - Kit ACON HBsAg

- Alat tes

- Pipet tetes

- Serum atau plasma

Prosedur : 1. Alat tes dilepaskan dari tutupnya ( untuk mendapatkan

hasil yang baik sebaiknya tes dilakukan dalam waktu 1

jam.

2. Tempatkan alat tes pada permukaan datar dan bersih.

Pipet tetes dipegang secara vertical lalu diteteskan 3

Tetes serum/plasma (+100 ul) kedalam sumur specimen

(S) alat tes. Hindarkan adanya gelembung udara

3. Tunggu sampai garis merah muncul pada alat tes (C/T).

Hasil sebaiknya dibaca dalam waktu 15 menit.

Interpretasi Hasil :

Positif : Terbentuk dua garis merah pada bagian control (C) dan tes

(T), atau samar-samar

Negatif: Hanya 1 garis merah muncul pada bagian komtrol (C)

Invalid : Tidak timbul garis merah sama sekali atau timbul hanya

pada bagian tes (T).


Hepatitis B surface Antibodi (HbsAb)

Pada infeksi dengan VHB, timbulnya anti HBs agak lambat, lebih lambat daripada timbulnya anti-HBc maupun anti-HBe. Anti-HBs baru timbulpada fase penyembuha, yaitu beberapa waktu setelah HBsAg menghilang dari peredaran darah penderita. Bila HBsAg telah menghilang dari peredaran darah, dan anti-HBs belum terdeteksi, yaitu pada fase yang disebut celah serologi (serological gap) atau periode jendela (window period), diagnosa dari infeksi VHB didasarkan pada marka serologic anti-HBc.

Kecepatan pembentukan anti-HBs, tampaknya bergantung pada kecepatan pembersihan HBsAg dari peredaran darah. Pada hepatitis fulminan, pembersihan HBsAg berlangsung cepat, sehingga pembentukan anti-HBs terjadi lebih dini. Sebaliknya pada pengidap virus hepatitis B, oleh karena HBsAg bertahan lama, maka produksi anti-HBs berlangsung amat lambat.

Penentuan antibody anti-HBs, dipakai sebagai penanda infeksi dengan VHB. Disamping itu tes ini, terutama yang kuatitatif, dapat juga dipakai untuk menilai hasil vaksinasi hepatitis B

Uji ELISA Anti-HBs

Prinsip :

Teknik ELISA yang dipakai dalam penentuan antibodi anti HBs ialah double antigen sandwich ELISA. Dalam teknik ini, anti- HBs yang terdapat dalam sampel (sera atau plasma) akan diikat oleh HBs yang dilapiskan pada permukaan sumur lempengan mikrotiter. Setelah pencucian, Konyugat HBs Ag-peroksidase yang ditambahkan akan diikat oleh sisa Fab dari anti-Hbsyang terikat pada fase padat. Kelebihan konyugat dibuang dengan pencucian, dan aktivitas enzim yang terikat pada fase padat ditentukan. Reaksi enzimatik dihentikan dengan panambahan asam sulfat. Intensitas perubahan warna berbanding lurus dengan kadar anti-HBs dalam sampel.

Bahan : Serum atau plasma

Alat : - mikrotiter

- Pipet 10 ul, 100 ul, 200 ul.

Prosedur :

1. Serum kontrol negatif (200ul) dimasukkan kedalam 4 sumur pertama dari lempengan mikrotiter yamg dilapisi dengan HBs antigen. Dalam 2 sumur berikutnya dimasukkan 200ul serum baku anti-HBs (30 ul). Untuk pemeriksaan kuantitatif harus ditambahkan dua sera baku lagi, yaitu 10 IU/I, 20 IU/I dalam duplo. Sampel juga 200 ul, dimasukkan kedalam beberapa sumur beriktnya.

2. Lempengan mikrotiter ditutup dengan kertas penutupnya (self- adhesive foil), dan diinkubasikan pada 18-250C selama 16-24 jam.

3. Penutup lempengan mikrotiter dibuka, isi sumur diisap keluar, dan ditambahkan 300 ul larutan dapar pencuci kedalam masing-masing sumur lalu diisap lagi. Tahap pencucian ini diulangi satu kali lagi.

4. Dalam tahap berikutnya ditambahakan 100 ul larutan konjugat dengan urutan seperti pada butir 1. Dalam hal ini harus diuasakan agar tepi sumur tidak terkena larutan konjugat (dapat memberi hasil positif semu)

5. Setelah ditutup dengan penutupnya, lempengan mikrotiter diinkubasikan pada 370C selam 1,5 jam atau 500C selama 1 jam.

6. Sisa konjugat yang tak terikat dibuang dengan cara pencucian seperti tersebut pada butir 3; pencucian dilakukan empat kali.

7. Selanjutnya ditambahkan 100 ul larutan substrat berkromogen (OPD) yang telah disiapkan sesaat sebeluminkubasi konjugat berakhir.

8. Setelah ditutup dengan penutupnya, substrat diinkubasikan pada 18-25oC selama 30 menit. Hindarkan pemaparan terhadap cahaya matahari.

9. Setelah waktu inkubasi, penutup lempengan dibuka, dan ditambahkan 100 ul larutan penghenti reaksi (0,5N H2SO4) dengan urutan waktu yang sama seperti yang tertera pada butir 7.

10. Evaluasi hasil tes dilakukan dalam waktu 1 jam.

Cara Evaluasi hasil tes.

Cara Visual

Lempengan mikrotiter diletakkan diatas dasar yang putih. Kontrol positif harus memberi warna kuning-oranye sedangkan kontrol negatif hampir tidak memberi warna. Bila terdapat penyimpangan dari hal tersebut di atas, seluruh seri pemeriksaa harus diulangi. Sampel yang memberi warna sama dengan kontrol negatif dinyatakan negatif untuk Anti-HBs. Sampel yang memberikan intensitas warna lebih tinggi daripada warna kontrol negatif untuk sementara dianggap positif. Sampel yang menunjukkan hasil negatif pada tes ulangan, dinyatakan sebagai Anti-HBs negatif. Bila pada tes ulangan hasilnya tetap positif maka tes dinyatakan Anti-HBs positif.

Cara Fotometrik.

Ambang atas nilai rujukan (cut-off value) ditentukan dari nilai rerata (X) dari absorban sera kontrol negatif. Ambang atas nilai rujukan= X absorban negatif +0,05 unit absorban. Absorban sampel lebih kecil dari ambang atas nilai rujukan ditentukan sebagai anti-HBs negatif sedangkan absorban sampel lebih besar atau sama dengan ambang atas nilai rujukan, untuk sementara ditentukan sebagai positif. Dalam mementukan ambang atas nilai rujukan, perlu diperhatikan bahwa hanya sera kontrol negatif yang memberi absorban <>0,1 unit ansorban, maka seri pemeriksaan tersebut perlu diulangi.

SIFILIS

Antibodi terhadap Sifilis mulai terbentuk pada akhir stadium pertama, tetapi kadarnya amat rendah dan seringkali memberi hasil yang negative pada uji serologis. Biasanya IgM terbentuk lebih dahulu, baru diikuti oleh IgG.

Titer antibody ini terus meningkat dan mencapai puncaknya pada stadium kedua untuk selanjutnya menurun sedikit demi sedikit pada stadium laten dan menunjukkan titer yang agak rendah (tetapi masih positif) pada sifilis stadium lanjut (laten sifilis). Pada stadium lanjut ini, IgM telah menurun, bahkan kadangkala menghilang dan hanya IgG yang masih terus bertahan> Keadaaan semacam ini tentunya hanya terjadi pada penderita Sifilis yang tidak diobati. Pemberian antibiotika (Penicilline) akan menurunkan titer antibody tersebut setelah waktu tertentu yang tergantung dari stadium penyakitnya. Dalam hal ini antibodi nonspesifik (VDRL) dan IgM spesifik dapat menurun sampai menghilang (negative) dalam waktu tertentu setelah pengobatan sedangkan IgG-spesifik akan bertahan terus selama hayat dikandung badan walaupun telah mendapatkan pengobatan yang intensif dan berhasil.

Dari segi imunoassai, suatu infeksi dengan T.pallida yang dikenal sebagai pengobatan dari Sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibody sebai berikut :

  1. Antibodi nontreponemal atau regain sebagai akibat dari sifilis atau penyakit infeksi yang lain.

Antibodi ini baru terbentuk setelah penyakit menyebar kekelenjar limfe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan. Antibodi ini membrikan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain seperti misalnya dengan antigen lipoid dari ekstrak otot jantung.

  1. Antibodi treponemal yang bereaksi dengan T.pallida dan closely related Strains. Dalam golongan antibody ini dapat dibedakan 2 jenis antibody yaitu:
    1. Group Treponemal antibody, yaitu antibody terhadap antigen somatic yang dimiliki oleh semua Treponemal.
    2. Antibodi terponemal yang spesifik, yaitu antibody terhadap antigen spesifik dari T.pallidum.

Pemeriksaan :

Syphilis RPR Test

“Tes Cepat untuk menentukan antibodi regin dalam serum atau plasma secara kualitatif dan kuantitatif”

Prinsip

Tes SRPR adalah sebuah tes yang berdasarkan atas reaksi flokulasi non treponemal yang digunakan untuk mendeteksi antibody regain yang timbul pada penyakit Sypilis. Antigen RPR yang digunakan dalam Kit ini adalah modifikasi dari antigen VDRL dimana mengandung partikel arang khusus untuk memperbesar perbedaan antara hasil positif dengan negatif secara Visual.

Isi Kit.

AGS 1 atau 5 x 1,6 ml Suspensi Antigen RPR (tutup merah)

Suspensi Cardiolipin, mengandung Mikro arang khusus 0,3%, Na.Azide 0,095%

PC 0,5 atau 1 ml Kontrol serum positif (penetes merah)

Reaktif terhadap Antigen RPR (manusia), Na.Azide 0,095%

NC 1 ml Kontrol serum negatif (Penetes Hijau)

Tidak reaktif terhadap antigen RPR. Na.Azide 0,095%

Alat Yang Digunakan

- Kertas dengan 10 petakan

- Jarum untuk AGS (16ul)

- Botol dispensi

Spesimen/Sampel

- Plasma, serum (dipanaskan atau tidak), Bebas hemolisis dan kontaminasi

- Srum segar bisa disimpan selama 5 hari pada suhu 2-80C atau 4 minggu pada suhu –20oC

Prosedur

  1. Tes Kualitatif

Bawa AGS,PC,NC dan sampel kesuhu ruangan. AGS campur dengan baik, suspensi harus benar-benar homogen sebelum digunakan.

Letakkan pada petak-petak berpisah pada kertas menggunakan penetes atau penyalur serum dan lebarkan cairan hingga memenuhi area :

Sampel 1 tetes (50 ul)

PC 1 tetes

NC 1 tetes

AGS Masing-masing 1 tetes

Miringkan kartu tes dengan lambat selama 8 menit atau letakkan diatas rotator 100 rpm selama 8 menit.

Interpretasi Hasil

- Reaktif®gumpalan besar

- Reaktif sangat lemah®Gumpalan kecil

- Non reaktif®Tidak ada gumpalan atau sangat halus

  1. Tes Semikuantitatif

Encerkan sampel dengan NaCl 0,9% berturut-turut 1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, Kemudian lanjutkan seperti pada tes kualitatif.

Interpretasi Hasil

Pengenceran terakhir yang masih positif.

TPHA (Syphilis TPHA Liquid)

“Tes Hemaaglutinasi Untuk menentukan Antibodi terhadap Treponema pallidum secara kualitatif dan kuantitatif”.

Metode : Tes STL menggunakan metode Hemaaglutinasi tidak langsung (indirek hemaaglutinasi) untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap T.pallidum. Erittrosit unggas dilapisi dengan antigen T.pallidum. Adanya antibodi Sipilis yang mensentisasi sel akan mengahsilkan agglutinasi dengan pola khas didalam mikroplate. Antibodi untuk Treponema non-patogenik diabssorbsi oleh ekstrak Reiter Treponema yang ada didalam suspensi sel.

Isi Kit :

STC 2x4 ml Test Cell (tutup putih) siap pakai, (sel unggas)

SCC 2x5 ml Control Cell (tutup biru) siap pakai, (sel

unggas)

PC 0,5 ml Control Serum Positif (tutup merah), reaktif

dengan Test Cells (serum Manusia)

NC 0,5 ml control Serum Negatif (tutup hijau) tidak

reaktif denagn Test Cells dan control Cells

(serum bovine).

DIL 20 ml Diluent (serum Kelinci).

Alat Yang Digunakan :

- Mikropipet atau Mikrodiluter (25 ul, 75 ul, 100 ul)

- Mikroplate “U”

Spesimen/Sampel :

Serum (jangan Plasma) hindarkan dari kontaminasi dan hemolisis, serum segar bisa disimpan maksimal 24 jam, suhu 2-80C atau 4 minggu pada suhu –20oC.

Prosedur

  1. Tes Kualitatif

1. Dipipet Diluent sebanyak 100 ul kedalam W1, dan 25 ul masing-masing untuk W2 dan W3.

    1. Tambahkan 25 ul serum sampel atau PC, NC kedalam W1, campur dan pindahkan 25 ul ke w2 (control Well). Campur dan pindahkan 25 ul ke Well lain
    2. Tambahkan 75 ul suspensi SCC ke W2 dan 75 ul suspensi STC ke W3
    3. Goyangkan plate untuk memastikan bahwa isinya telah tercampur dengan baik.
    4. Letakkan plate diatas permukaan warna putih, jauhkan dari getaran dan sinar matahari langsung. Biarkan selama 45-60 menit, baca hasil.
  1. Tes Kuantitatif.

1. Isi masing-masing 25 ul DIL kedalam W4 sampai W10, sejajar dengan Well pada tes kualitatif.

    1. Tambahkan 25 ul campuran dari W3 (Well lain) ke W4, campur dan pindahkan 25 ul ke W5 dan seterusnya sampai pada W10 dituang sebanyak 25 ul.
    2. Tambahkan masing-masing Well STC sebanyak 75 ul.
    3. Lanjutkan seperti pada tes Kualitatif.

Interpretasi Hasil :

Negatif : Suspensi sel mengumpul ditengah Well

Positif : Aglutinasi menyebar didasar Well

Pengenceran ! Coba Anda Hitung Sendiri?

Catatan : W2 harus selalu bereaksi Negatif, Jika pada W2 positif maka tes dinyatakan tidak sah (invalid). Langakah selanjutnya serum sampel harus diabsorbsi dengan cara :

“ 25 ul sampel dicampur dengan 0,5 ml SCC dan inkubasi selama 30 menit. Sentrifus selama 5 menit dan pipet 25 ul supernatan kedalam 75 ul STC pada well. Lanjutkan dan baca seperti tes kualitatif.

MALARIA

Sporozoit masuk kedalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles, dan menetap di hepatosit. Plasmodium vivax, P.ovale dan P.cynomolgi memiliki tahap dorman yang disebut hypnozoit yang menetap selam berminggu-minggu sampai beberpa tahun kemudian berkembang menjadi schisont praeritrosit. Sebaliknya P.falcifarum dan P.malaria tidak memiliki tahap persisten tersebut. Suatu schisont praeritrosit mengandung 10.000-30.000 merozoit yang dilepaskan kedalam sirkulasi, dan menginvasi sel darah merah. Didalam sel darah merah(SDM), merozoit berkembang melalui beberapa tahap, yaitu bentuk cincin, tropozoit dan schisont eritrosit.

Sel darah merah yang terinfeksi dengan P.falcifarum membentuk suatu struktur benjolan yang padat electron pada membrane permukaan. Struktur yang berbentuk benjolan tersebut terdiri dari protein inang maupun parasit, termasuk protein parasit KAHRP (knob-associted histidin rich protein) dan PfEMP-1(Plasmodium falcifarum erytrosyte membrane protein-1). PfEMP-1 berperan pada sitoadhesi (cytoadhesion) dari SDM yang terinfeksi P.falcifarum pada thrombospodin (TSP), dan bebrapa resptor sel endotel, termasuk CD 36, ICAM-1,VCAM, dan ELAM.

Antigen malaria, walaupun amat banyak jenisnya, namun dewasa ini yang menjadi target dari imunoasai untuk mendeteksi adanya infeksi dengan parasit malaria, khususnya untuk uji diagnostik cepat (rapid diagnostic test = RDT) hanya ada beberapa saja, yaitu histidine-rich protein-1 (HRP-1) dari P.falcifarum, parasite-specific lactate dehydrogenase (pLDH), dan Plasmodium aldolase dari parasit glycolitic pathway yang terdapat pada semua spesies.

Pemeriksaan

Metode : Deteksi antigen HRP-2

Prinsip : Imunokromatografi

Bahan : Darah lisis

Alat dan Reagen : - Tabung reaksi

- Kit

Prosedur :

Ujung bawah (sample Pad) dari carik celup, dicelupkan kedalam tabung yang berisi darah penderita yang telah dilisiskan. Darah tersebut akan diisap, dan bermigrasi kearah absorbent pad. Setelah terjadi perubahan warna pada garis kontol, carik celup dikeluarkan, dan dicelupkan ketabing lain yang berisi larutan dapar pencuci untuk pembersihan. Seluruh tes selesai dalam waktu 20 menit.Tes dibaca dengan kasat mata, dan dilihat adanya perubahan warna, baik pada garis pengikat ( capture line) maupun garis control. Tes dikatakan positif bila kedua garis tersebut memberi warna merah, dan dikatakan negative bila hanya garis control saja yang berwarna merah.


DEMAM BERDARAH DENGUE

Penyakit demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam virus arbo. Manifestasi klinik dari penyakit ini amat bervariasi, mulai dari penyakit yang paling ringan, demam dengue(DF), demam berdarah dengue (DHF). Dan dengue shock syndrome (DSS), virus dengue terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Struktur antigen dari ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibody terhadap masing-masing serotype tidak dapat saling memberikan perlindungan silang.

Di dalam tubuh manusia virus berkembang biak dalam system retikuloendotelial, dengan target utama virus dengue adalah monosit atau makrofag walaupun sel-sel lain seperti sel kupfer dari hepar juga dapat terkena. Viremia timbul terjadi reaksi anamnestik dari pembentukan antibody, khususnya daripada saat menjelang tampak gejala klinik hingga 5-7 hari sesudahnya. Virus bersirkulasi dalam darah perifer di dalam sel monosit/makrofag, sel limposit B dan sel limposit T.

Infeksi primer ditandai dengan timbulnya antibody IgM terhadap dengue sekitar 3-5 hari setelah timbulnya demam, menngkat tajam dalam satu sampai tiga minggu, bertahan selama 30-90 hari, meskipun pada bebrapa kasus ada yang masih dapat dideteksi hingga delapan bulan. Antibodi IgG terhadap dengue diproduksi sekitar dua minggu sesudah infeksi. Titer IgG ini meningkat amat cepat, lalu menurun secara lambat dalam waktu yang lama dan biasanya bertahan seumur hidup. Pada infeksi sekunder kelas IgG dimana pada hari kedua saja, IgG ini sudah dapat meningkat tajam kemudian akan diikuti dengan timbulnya IgM anti-dengue.

Terdapat korelasi antara infeksi dengue primer-sekunder dengan beratnya penyakit. Beberapa literatur menunjukkan bahwa, infeksi primer hanya menyebabkan suatu keadaan yang disebut ‘febrile self limiting disease’ sedangkan infeksi sekunder dapat menimbulkan komplikasi yang berat.

Pemeriksaan

Metode : Captured Imunocromatigrphic IgM dan IgG

Prinsip :

Apabila tedapat antibody dengue baik IgM atau IgG didalam serum akan diikat oleh anti-human IgM atau IgG yang dilapiskan pada dua garis silang distrip nitroselulosa. Kemudian formasi ikatan konjugat antibody monoclonal berlabel dan koktail antigen rekombinan dengue 1,2,3,4 yang juga ada dinitroselulose, ditangkap (captured) oleh ikatan serum antibody dengue spesifik IgM atau IgG dengan anti-human pada garis silang dan membentuk garis berwarna pink/ungu.

Bahan : serum

Alat dan reagen : - Kit PanBio Duo Rapid Strip IgM & IgG

Prosedur :

1. Teteskan 75 ul (3 tetes) buffer kedalam tabung.

2. Tambahkan 1 ul serum, aduk sebentar

3. Masukkan strip test

4. Baca hasil setelah 15-30 menit

Iterpretasi hasil :

Positif Dengue Primer : Positif garis M dan C

Positif Dengue Sekunder : Positif garis M, G, dan C atau G dan C

Negatif : Positif hanya pada garis C

Invalid : Tidak terlihat garis C

Ket : C = control, M = IgM, G = IgG


Human Immunodefesiensi Virus (HIV)/AIDS

AIDS adalah suatu sindroma yang amat serius, dan ditandai oleh adanya kerusakan system kekebalan tubuh dari penderitanya. Penyebab penyakit AIDS adalah Human Immunodefesiensi Virus (HIV) yang termasuk famili retrovirus, dan sub famili lenti virus. Dikenal dua macam subtype HIV yaitu HIV-1 yang enyebar keseluruh dunia dan HIV-2 yang terutama terdapat di Afrika Barat dan Portugal. Lapisan luar (envelope) dari virus mempunyai banyak tonjolan (spike), masing-masing tonjolan terdiri dari sekitar 4 molekul protein gp 120 yang menonjol keluar, dan sejumlah yang sama glukoprotein transmembran gp 41 yang merupakan tempat perlekatan dari gp 120. Dibawah envelope terdapat terdapat satu lapisan protein matriks yang disebut p 17, yang selanjutnya meliputi core atau kapsid (capsid).

Bila virion HIV masuk kedalam sel target, beberapa peristiwa yang kompleks, dan berurutan akan berlangsung yang berakhir dengan pembentukan partikel virus yang baru dari beberapa sel target yang terinfeksi. Dalam tahap awal infeksi, system imun mungkin berhasil untuk memerangi dan mengeliminasi beberapa sel yang terinfeksi, namun sebagian dari sel terinfeksi tersebut akan tertinggal, menghindari mekanisme dari daya tahan host, dan virus didalamnya akan terus berkembang biak dalam kecepatan yang agak kurang selama bebrapa dasawarsa. Selama periode ini kondisi penderita umumnya cukup baik.

Dalam tahap awal infeksi, terjadi suatu window periode, yaitu keadaan seronegatif selama kurun waktu 6 minggu sampai 6 bulan sesudah infeksi. Antibodi spesifik terhadap gp 41 dapat dilacak beberapa minggu atau beberapa bulan lebih awal daripada antibody terhadap p24, dan tetap ada selama perjalanan penyakit. Dalama respon imun humoral tersebut dibentuk juga antibody (neutralizing antibodies) terhadap gp 120 (bagian luar envelope), dan terhadap gp 41 (protein transmembran yang merupakan tempat yang penting oada infeksi virus).

Pemeriksaan

Metode : Immunokromatografi (Anti HIV-1/HIV-2)

Prinsip :

Immunokromatografi dimana membrane dilapisi oleh antigen HIV rekombinan pada garis tes. Pada saat serum diteteskan pada salah satu ruang membrane, sample akan bereaksi dengan partikel yang telah dilapisi dengan protein A yang terdapat pada bantalan specimen. Selanjutnya campuran ini akan bergerak secara kromatografi keujung lain membrane dan bereaksi dengan antigen HIV rekombinan yang terdapat pada garis tes. Jika serum/plasma mengandung antibody HIV-1/HIV-2 maka akan timbul garis warna pada garis tes.

Alat dan bahan :

- Kit ACON HIV-1/2 : - alat tes

- Buffer

- Pipet tetes

- Serum/plasma (EDTA/heparin/citrate)

Prosedur :

  1. Alat tes dilepaskan dari tutupnya dan dilakukan paa suhu ruangan.

Sebaiknya tes dilakukan dalam waktu 1 jam untuk mendapatkan hasil

yang baik.

2. Tempatkan alat tes pada permukaan datar dan bersih. Pipet tetes dipegang secara vertical lalu teteskan serum/plasma 1 tetes(+ 30-40 ul) kedalam sumur specimen (S), kemudian tambahakan 2 tetes buffer. Hindarkan adanya gelembung udara.

3. Tunggu sampai garis merah muncul. Hasil sebaiknya dibaca dalam

waktu 10 menit.

Cat : Hasil tidak dinterpretasikan setelah 20 menit.

Interpretasi hasil :

- Positif(reaktif) :Jika nampak garis merah pada Control dan garis Tes

- Negatif (non reaktif) : Hanya nampak 1 garis merah pada bagian control

- Invalid : Tidak nampak garis merah samasekali atau nampk hanya

pada bagian tes(T).

TOKSOPLASMOSIS

Antibodi terhadap Toksoplasma gondii, walaupun hanya memegang peranan yang kecil saja dalam system pertahanan tubuh terhadap infeksi dengan parasit ini, namun antibodi ini selalu diproduksi selama infeksi dengan parasit ini. Antibodi kelas IgM mulai diproduksi pada minggu pertama setelah infeksi, mencapai puncaknya setelah 1-2 bulan, dan menurun lagi setelah 4 bulan, namun pada sekitar 50% dari penderita yang terifeksi dengan parasit ini, IgM masih dapat dilacak sampai satu tahun pasca infeksi primer. IgA terhadap T.gondii diproduksi pada akhir bulan pertama pasca infeksi, mencapai puncaknya setelah 2-3 bulan, dan menghilang sebelum penurunan IgM.IgG anti-T.gondii timbul bebrapa minggu setelah IgM, mencapai puncaknya setelah 6 bulan, dan bertahan pada titer tinggi selama bebrapa tahun, lalu menurun perlaha-lahan, dan menetap pada kadar rendah seumur hidup. Pengetahuan mengenai pola kadar antibody-Toksoplasma penting untuk interpretasi dari hasil immunoassay/uji serologis untuk Toksoplasmosis, Khususnya untuk Toksoplasmosis untuk ibu hamil, terutama pada 3 bulan pertama kehamilan.Infeksi primer pada 3 bulan pertama lebih sering (60%) menyebabkan Toksoplasmosis berat dibandingkan dengan trisemester kedua (30%), dan trisemester ketiga (0%), Walaupun infeksi pada janin yang dikandungnya terjadi sebaliknya (lebih mudah terjadi pada trisemester kedua dan ketiga)

Keadaan tanpa gejala dengan tietr IgG anti-Toksoplasma yang stabil, dan IgM yang positif menyulitkan interpretasi hasil tes sehingga diperlukan pemeriksaan, dan pengetahuan mengenai IgA anti-Toksoplasma, walaupun masa deteksinya pendek.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar